Habib Ja’far: Kewajiban Suami Istri

Satu Titik Nila Rusak Susu Sebelanga

PAMEKASAN- Habib Ja’far Bin Abu Bakar Al Muhdor menekankan pentingnya pemahaman akan fungsi dan tugas pokok suami istri dalam keluarga. Hal tersebut ia sampaikan pada Pengajian Umum dan Halal Bihalal Forum Kesatuan Anak Muda Gunung Tinggi (FORKAM GT) yang dilaksanakan pada Jum’at (28/4) malam.

Menurutnya jika dipersentasikan dalam jumlah hitungan, kebanyakan penghuni neraka adalah kaum perempuan disebabkan meremehkan peran dan kebaikan suami.

“Rata-rata perempuan menghilangkan kebaikan laki-laki, seumpama ia diberi uang belanja 100 ribu ia akan berkata uang segitu dapat apa?” jelasnya dengan logat khas Madura.

Habib dengan penampilan bersahaja ini mewanti-wanti agar sebuah kesalahan kecil tidak merusak kebaikan yang dilakukan dan dibina selama satu tahun. Ia mengutip salah satu hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhori:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكثَرُ أَهلِهَا النِّسَاءُ يَكفُرنَ، قِيلَ أَيَكفُرنَ بِاللهِ، قَالَ يَكفُرنَ العَشِيرَ وَيَكفُرنَ الإِحسَانَ، لَو أَحسَنتَ إِلَی إحْدَاهُنَّ الدَّهرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنكَ شَيئًا قَالَتْ مَا رَأَيتُ مِنكَ خَيرًا قَطُّ

“Diperlihatkan kepadaku neraka, kebanyakan penduduknya perempuan yang kufur, ditanyakan apakah karena kufur kepada Allah? Beliau menjawab karena kufur pada suaminya dan mengingkari kebaikannya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah satu darinya sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu darimu (kejelekan) lalu ia berkata, aku tidak melihat kebaikan sama sekali darimu.”

Di sisi lain ia berpesan kepada kaum laki-laki agar bisa menghadapi perempuan dengan baik, mapan, lemah lembut dan tidak kasar. Perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sudah bawaannya cerewet dan tidak perlu diladeni, diam layaknya orang bodoh. Jika diladeni tidak akan menang melawan perempuan. Diam bukan berarti kalah, akan tetapi sebagai cara untuk mengajari tanpa kekerasan. Dai dari Probolinggo ini mengutip salah satu anjuran Nabi:

اِستَوصُوا بِالنِّسَاءِ خَيرًا فَإِنَّ المَرأَةَ خُلِقَتْ مِن ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعوَجَ مَا فِي الضِّلَعِ أَعلَاهُ، فَاِن ذَهَبتَ تُقِيمُهُ كَسَرتَهُ، وَإِن تَرَكتَهُ لَم يَزَلْ أَعوَجَ. فَاستَوصُوا بِالنِّسَاءِ خَيرًا

“Berpesanlah kepada perempuan dengan baik, sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan paling bengkoknya tulang rusuk bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang tersebut berarti engkau mematahkannya, jika engkau membiarkannya ia tetap dalam keadaan bengkok, maka berpesanlah dengan baik,” HR Bukhori

Lantas Apa Kewajibannya

Suami harus menyayangi istri. Tugas dan kewajiban yang seharusnya diemban suami dilakukan istri dengan sabar penuh tanggung jawab, seperti mencuci, memasak, dan pekerjaan lainnya. Padahal itu bukan tugas istri, ia tidak dosa bila tidak melakukannya.

“Tugas istri satu, taat. Tapi kalau suami menyuruh masak dan mencuci, istri juga wajib mentaati,” terangnya disambut gelak tawa hadirin.

(*)

Bagikan

Eksistensi Santri Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Pamekasan- Dalam rangka perayaan Milad yang ke-27, Ikatan Remaja Santri Dan Pemuda Proppo (IRSAP) mengadakan Pengajian Umum sekaligus penyantunan 27 anak yatim di daerah sekitar pada Rabu (26/4/23) bertempat di Dusun Jengleteh, Desa Campor, Proppo. Milad kali ini mengusung tema, “Eksistensi Santri Dalam Kehidupan Bermasyarakat.”

Sebagai bentuk dan rasa nasionalisme pada negara, sesudah pembukaan acara, semua hadirin berdiri hidmah mengiringi lagu kebangsaan Indonesia yang dipandu Taruna Bata-Bata.

Elman Duro, M.Pd selaku Ketua Umum IRSAP menyampaikan bahwa undangan acara menyebar sekitar 3.200 undangan yang tersebar di 27 Desa di seluruh Kecamatan Proppo. Menurut Dosen IAIN Madura ini, santri harus eksis, menjadi madu bukan menjadi candu di tengah-tengah masyarakat. Ia sangat menyanyangkan apabila label negatif selalu disematkan di pundak para santri. “Sungguh naif, apabila sinyal HP sibuk, jalanan ramai dan gaduh (bleyer) dihubungkan pada santri yang sedang liburan, padahal pesantren tidak demikian, mengajarkan tatakrama dan  hal-hal yang baik,” terangnya.

Sementara Bpk. Munafi’, S.Ag selaku Camat baru Proppo dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya pada acara tersebut. Menurutnya, pesantren rumah yang sangat nyaman bagi pendidikan anak. Ia menambahkan bahwa ada dua institusi yang tidak boleh jebol, Pondok Pesantren dan Madrasah.

“Kalau dulu maksiat ada di pinggir sungai, tapi sekarang ada di dalam kamar dengan adanya HP, di pesantren anak akan terjaga baik,” uangkap peria yang pernah bertugas sebagai Camat di Pasean tersebut. Ke depan ia berharap santri tidak hanya menggarap bagian Agama tapi juga pada bidang ekonomi seperti yang diupayakan oleh pesantren-pesantren di Proppo.

Taujihat dan tausiyah diisi oleh KH. Kholil Muhammad, dan dai muda KH. Abd. Hamid Amjad Hasan Jauhari. Para hadirin yang menyaksikan mengikuti jalannya acara sampai pukul 22.45 WIB. Pengajian umum diparipurnai doa yang dipimpin KH. Fahrur Rosi Azis.

IRSAP adalah organisasi besar di Kecamatan Proppo, didirikan pada tahun 1996 oleh santri 4 Pesantren, yakni santri PP Mambaul Ulum Bata-Bata, PP Darul Ulum Banyuanyar, PP MISDAT UD Lenteng, PP Nurul Ittihad Billa’an, di mana pada perjalanannya mengikut sertakan pesantren-pesantren di Kecamatan Proppo.

(*)

 

Bagikan

Haruskah Lebaran Sama?

Indahnya Perbedaan

Minggu-minggu ini terjadi polemik dan silang pendapat yang cukup tajam di dunia maya menyikapi waktu lebaran 1444 H, apakah jatuh pada hari Jum’at atau Sabtu. Perbedaan ini sejatinya bukan sesuatu hal yang baru, tetapi dukung mendukung pada kelompok dan Ormas masing-masing tidak dapat dihindarkan.

Ceruk polarisasi tersebut semakin menajam manakala terdapat 60-an Negara merayakakan hari lebaran Idul Fitri pada Jum’at, 21 April 2023, tersisa 4 Negara Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat Indonesia (ORBITINDONESIA.COM), sementara pada sidang itsbat yang diselenggarakan Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 22 April 2023.

Arab Saudi dan Mesir adalah dua Negara yang menjadi kiblat dan menara ilmu umat Islam selama ini menetapkan lebaran Idul Fitri pada hari Jum’at mengikuti Negara lainnya. Keputusan tersebut seperti menjustifikasi dan membenarkan kelompok yang merayakan lebaran pada hari tersebut. Benarkah demikian?

Perbedaan Mathla’

Apabila hilal terlihat di suatu Negeri dan tidak terlihat di Negeri lainnya, maka dua Negeri tersebut dihukumi satu Negeri apabila wilayah teritorialnya berdekatan disebabkan satu matla’ (penampakan bulannya sama). Apabila mathla’nya berbeda, maka penetapan puasa Ramadhan atau Syawal berlaku bagi wilayah yang melihat hilal, dan tidak berlaku bagi yang tidak melihat hilal.

Penetapan Idul Fitri yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Mesir misalnya bukan suatu pembenaran dan tidak harus sama dengan Negeri lainnya yang berbeda matla’nya.

إمتاع النجيب، الشيخ هشام كامل، ١٦٨

والدليلُ ما روی كُرَيبٌ قالَ: استُهِلَّ عَلَيَّ رمضانُ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيتُ الهِلَالَ لَيلَةَ الجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمتُ المَدِينَةَ فِي أٓخِرِ الشَّهرِ، فَسَأَلَنِي عَبدُ اللهِ بنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنه، ثُمَّ ذَكَرَ الهِلَالَ فَقَالَ مَتَی رَأَيتُمُ الهِلَالَ؟ فَقُلتُ رَأَينَاهُ لَيلَةَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ أَنتَ رَأَيتَهُ؟ فَقُلتُ نَعَم وَرَأٓهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، فَقَالَ لَكِنَّا رَأَينَاهُ لَيلَةَ السَّبتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّی نُكمِلَ ثَلَاثِينَ أَو نَرَاهُ، فَقُلتُ أَوَلَا تَكتفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فَقَالَ لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عليهِ وسلَّم.. رواه مسلم وابو داود وغيرهما

Diriwayatkan oleh Kuraib, ia berkata, “Telah dimulai Ramadhan bagiku sementara aku berada di Syam, aku melihat bulan pada malam Jum’atnya, kemudian aku pergi ke Madinah pada akhir bulan, Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku dan berbicara hilal, ia berkata kapan kalian melihat hilal? Aku menjawab, kami melihatnya pada malam Jum’ at. Abdullah bin Abbas berkata, engkau benar melihatnya? Aku menjawab ia, begitu juga orang-orang, mereka berpuasa, dan Muawiyah berpuasa. Ia berkata, tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa menyempurnakan sampai 30 atau kami melihatnya. Aku berkata, tidakkah cukup apa yang telah dilihat Muawiyah begitu juga dengan puasanya? Abdullah bin Abbas menjawab, begitulah Rasulullah mengajarkan kami.” HR. Muslim dan Abu Daud dan lainnya.

Menyikapi Perbedaan

Riwayat Imam Muslim dan Abu Daud di atas menegaskan bahwa perbedaan penetapan puasa Ramadhan dan Syawal sudah terjadi 13 abad yang silam antara Ibnu Abbas di Madinah yang melihat hilal pada malam Sabtu dan Muawiyah di Syam (Damaskus, Syiria) ) yang melihat hilal pada malam Jum’atnya, di mana jaraknya hanya sekitar 15, 8 km saja, mengingat kudua wilayah tersebut berbeda matla’nya. Perbedaan antara kedua sahabat mulia Nabi tersebut masih dalam ruang lingkup ijtihad dan sama-sama berpegang pada perintah ajaran Agama dan saling menghargai satu sama lainnya.

Kalangan Syafiiyah berpendapat bahwa perbedaan permulaan puasa dan lebaran dihitung dari perbedaan mathla’ bulan di antara jarak yang jauh, di mana dekat jauhnya suatu wilayah dihitung sejauh perjalanan qashor.

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢، ٥٣٣

وفي رأي الشافعيةِ يختلفُ بدء الصومِ والعيدِ بِحسبِ اختلافِ مطالعِ القمرِ بين مسافاتٍ بعيدةٍ. ولا عبرةَ في الاصحِّ بما قاله بعضُ الشافعيةِ: من ملاحظة الفرق بين البلد القريبِ والبعيدِ بحسب مسافةِ القصر ٨٩ كم

Permasalahannya sidang itsbat yang ditetapkan Kemenag RI sifatnya tidak mengikat sebagaimana di Negeri lainnya ketika mufti Negara tersebut menetapkan maka menjadi keputusan tetap dan pasti. Jika ingin sebuah keputusan yang sama, maka Kementrian Agama perlu duduk bersama dengan Ormas-Ormas yang ada seputar kriteria penetapan . Begitu juga tentang kriteria hilal dengan ketinggian 3 derajat, elongasi 6.4 derajat yang disepakati dengan Menteri 4  Negeri tetangga di Asia Tenggara yang dalam hal ini Berunai, Indonesia, Singpura dan Malaysia. Bila keputusan Negara mengikat maka tidak terjadi lebaran jauh-jauh hari yang dirayakan oleh kelompok masyarakat Aboge, Probolinggo beberapa hari yang lalu, yang seharusnya bila menjadi keputusan tetap, pemerintah dapat melarangnya.

Namun demikian mari kita berbeda dengan indah, damai penuh keberkahan. Semoga kita semua tidak saling menghujat, mencaci maki dan merasa benar sendiri.

تقبل الله منكم ومنكم صالح الاعمال

كل عام وانتم بخير

SSMedia

 

Bagikan

Fidyah Puasa

Pembayaran Fidyah Puasa

 أمّا الفديةُ: فالكلامُ في وجوبها الوجوبُ، لقولهِ تعالی: وَعَلَی الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِديَةٌ طَعَامُ مِسكِينٍ. البقرة ١٨٤، والفدية…… مدٌّ من الطعامِ من غالبِ قُوتِ البلدِ عن كلِّ يومٍ عند الجمهورِ، بقدرِ ما فاتهُ من الأيامِ

Kewajiban fidyah berdasarkan firman Allah Swt, “Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya (membayar) fidyah (memberi) makan orang-orang miskin.” QS Al Baqarah: 184.

Adapun besarannya menurut Jumhur Ulama ialah 1 mud dari makanan pokok suatu Negara dari setiap harinya (keterangan sebelumnya: 675 gram/ 6,75 ons).

Sebab-Sebab Pembayaran Fidyah

1. الشيخ الكبير والعجوز

Lelaki atau perempuan tua renta, sekiranya dipaksakan berpuasa akan membahayakan dirinya (مشقة). Keduanya boleh berbuka dan memberi makan orang miskin, dengan membayar fidyah 1 mud setiap harinya.

2. المريض الذي لا يرجی برؤه

Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh wajib membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan karena tidak ada kewajiban puasa baginya (Jika ada harapan sembuh maka tidak harus membayar fidyah namun harus mengqada’nya).

3. الحامل والمرضع

Orang mengandung dan menyusui jika dihawatirkan membahayakan kedua anaknya, keduanya boleh berbuka, membayar fidyah dan mengqada’. Jika membahayakan terhadap diri keduanya maka boleh berbuka dan mengqada’ dan tidak harus membayar fidyah.

4. من فرط في قضاء رمضان فأخره حتی جاء رمضان أخر

Orng yang lalai dalam mengqada’ puasa Ramadhan, mengakhirkannya sampai datang bulan Ramadhan sesudahnya maka wajib membayar fidyah dan mengqada’.

مراجع: الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢، ص ٦٠٤-٦٠٦

Sementara orang yang meninggal dan punya tanggungan puasa bisa dilihat di postingan sebelumnya.

Foto: Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz, Selangor, Malaysia.

Bagikan

Kaffarat Berbuka Puasa

Tebusan Atau Denda Bagi Yang Membatalkan Puasa

– Orang yang berbuka puasa di siang Ramadhan dengan makan atau minum disebabkan sakit atau perjalanan maka baginya mengqada’ (mengganti) puasa dari hari-hari yang dibatalkan

– Orang yang berbuka puasa di siang Ramadhan dengan disengaja (selain jima’) maka baginya mengganti puasa dari hari-hari yang dibatalkan, bertaubat dan beristighfar

– Orang yang berbuka dengan berjima’ maka ia harus mengqada’ puasa yang dibatalkan dan baginya kaffaratul ‘udzma (tebusan besar):

1. Memerdekakan budak sahaya yang mukminah;

2. Jika tidak mampu, berpuasa 2 bulan terus menerus, jika batal di suatu hari maka harus mengulang dari awal;

3. Jika tidak mampu, memberi makan 60 orang miskin, setiap 1 orang miskin 1 mud (ket. sebelumnya: 675 gram/ 6,75 ons).

– Kaffaratul ‘udzma hanya berlaku bagi lelaki yang berjima’ sementara perempuan yang disenggama cukup mengqada’ puasanya.

Kaffaratul ‘udzma tidak berlaku apabila didahului makan, minum atau sesuatu yang membatalkan sebelumnya.

إمتاع النجيب، الشيخ هشام كامل، ١٧٧ ١٧٨

الكفارةُ علی الرجلِ فقط لأنّ الكفارةَ حقٌّ ماليّ يختص بالجماعِ فاختص به الرجل دون المرأة، أما المرأةُ فعليها القضاءُ

ألا يتعاطی مفطرًا أخر كالأكلِ والشربِ ونحوهِ قبل الجماعِ، فلا كفارةَ عليه حيث لم يفطر بالجماع

Foto: Masjid Hasan II, Casablanca, Maroko

Bagikan

Berapa Besaran Zakat Fitrah Yang Harus Dikeluarkan?

Ukuran Zakat Fitrah

Menurut pendapat Syafi’iyah zakat fitrah diambil dari kebiasaan makanan pokok suatu Negara atau tempat yang berbeda satu sama lainnya. Adapun ukuran zakat fitrah yaitu 1 sha’. 

Adapun 1 sha’ ialah 4 mud.

Sementara 1 mud seukuran cidukan penuh kedua telapak tangan ukuran sedang.

1 mud sama dengan 675 gram atau 6,75 ons atau 0,6 kg.

Dengan demikian, jika zakat fitrah adalah 1 sha’ berarti 2.700 gram atau 2,7 kg. Demi kehati-hatian dan bentuk ikhtiat dalam prakteknya di lapangan, besaran zakat fitrah disempurnakan menjadi 3.0 kg.

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٣, ص ٦١

وذهب الشافعيةُ إلی أنّها تجبُ مِن غالبِ قُوتِ البلدِ أو المحلِّ، لإنّ ذلك يختلفُ باختلافِ النواحي…. ومقدارُها صاعٌ

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢, ص ٥٩٩

المدُّ رطلٌ وثلثٌ بالرطلِ البغدادي، ويساوي ٦٧٥ غم

 

Foto: Blue Mosque, Masjid Biru Sultan Ahmed, Istanbul, Turki

Bagikan

Waktu Zakat Fitrah

Lima waktu Berzakat Fitrah

1. Waktu wajib: yaitu pada akhir bagian dari bulan Ramdhan dan awal dari bulan Syawal

2. Waktu Sunnah: sesudah sholat subuh hari lebaran dan sebelum sholat hari raya

3. Waktu Makruh: sesudah shalat hari raya sampai waktu terbenam tanpa adanya uzur, menyelisihi pendapat yang kuat dalam keharamannya

4. Waktu Haram: sesudah terbenamnya matahari dan sesudahnya

5. Waktu Boleh: yaitu dimulai dari awal bulan Ramadhan dan tidak boleh sebelumnya

قَالَ رسولُ الله صلَّی اللهُ عليه وَسلَّم: زَكَاةُ الفِطرِ طُهرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغوِ وَالرَّفَثِ وَطُعمَةٌ لِلمَسَاكِينِ، مَن أَدَّاهَا قَبلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقبُولَةٌ، وَمَن أَدَّاهَا بَعدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. رواه أبو داود وابن ماجه

Rasulullah bersabda, “Zakat fitrah membersihkan bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, merupakan makanan bagi orang miskin, barang siapa menunaikannya sebelum sholat ‘id maka itu merupakan zakat yang diterim, dan barang siapa menunaikannya sesudah sholat maka termasuk shadaqah biasa.” HR Abu Daud dan Ibnu Majah

(*)

Imta’un Najib, Syeich Hisyam Kamil, Hal 160

Foto: Masjid Shah Faisal, Islamabad, Pakistan

 

 

Bagikan

KH Abd Hamid Bin Maulana Itsbat: Ulama Kharismatik Madura

Pamekasan- Setiap tanggal 18 Ramadhan diadakan Haul Akbar KH. Abdul Hamid Bin Maulana Itsbat di Pesantren Al-Hamidy Banyuanyar, di mana tahun ini merupakan haul ke-90 dari hari wafatnya yang bertepatan pada tahun 1931 M/ 1352 H. Haul beliau merupakan haul terbesar di pulau Madura, di mana setiap tahunnya dihadiri oleh lautan manusia dari penjuru pulau Madura, Tapal Kuda, bahkan dari luar Jawa.

Saudara-Saudaranya

KH. Abdul Hamid merupakan anak ke-5 dari 8 saudara dan meninggal di Jannatul Ma’la, komplek pekuburan Sayyidah Khatijah binti Khuwailid Ra dan para sahabat. Adapun saudara-saudaranya:

1. Wafat Muda, 2. Wafat Muda, 3. KH Nasiruddin (Ayah KH Badruddin, Panyeppen), 4. KH Abd Ghoni ( Ayah KH Maksum, Besuk Probolinggo), 5. KH Abd Hamid (Banyuanyar), 6. KH Abdullah (Banyuayu), 7. K Arif (Wafat Muda), 8. Wafat Muda

Putra-Putrinya

Beliau merupakan ulama yang sukses melahirkan ulama-ulama besar di daerah Jawa Timut pada khususnya berkat riyadah dan tirakatnya untuk keluarga dan para santri. Ia melanjutkan pesantren ayahnya menjadi pengasuh kedua pesantren Banyuanyar (Didirikan pada tahun 1787 M/ 1204 H) yang pada perkembangannya ada Al Hamidy (Banyuanyar Timur) dan Darul Ulum (Banyuanyar Barat). Dari pesantren tua inilah bermuara pesantren-pesantren besar di daerah Jawa Timur dengan ribuan santrinya, seperti PP Nurul Jadid Probolinggo, Miftahul Ulum Bettet, Banyuputih Lumajang, Al Majidiyah Palduding, Al Mujtama’, Gersempal Sampang, Al Khoirot Malang, Kebun Baru, Karang Durin, Nurul Abror Banyuangi, Annur Kalibaru, Polagan Galis, Sumber Gayam Kadur, dan banyak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Adapun putra-putrinya ada 7:

1. Nyai Salma istri KH Zayyadi

2. Nyai Ruqayyah (Kayu Manis)

3. Nyai Syafi’ah (Beringin)

4. KH Abdul Majid (Bata-Bata)

5. KH. Baidhawi (Banyuanyar)

6ٜ KH Abdul Aziz (Temporejo, Jember)

7. Nyai Juwairiyah (Bulugading, Jember)

Silsilah

K. Adul Hamid Bin Itsbat mempunyai silsilah yang berjalur ke dua sunan, Sunan Ampel dan Sunan Giri.

-1. K. Istbat bin, 2. K. Ishaq bin, 3. K. Hasan bin, 4. Nyai Embu’ Toronan binti, 5 Buju’ Agung Toronan bin, 6 Nyai Aminah binti, 7. Zainal Abidin (Cendana) bin, 8 K Muhamad Khatib (Suami Nyai Gede Kedaton) bin, 9. Qasim bin, 10 Raden Rahmat (Sunan Ampel).

– 1. K. Istbat bin, 2. K. Ishaq bin, 3. K. Hasan bin, 4. Nyai Embu’ Toronan binti, 5 Buju’ Agung Toronan bin, 6 Nyai Aminah binti, 7. Zainal Abidin (Cendana) bin, 8 Nyai Gede Kedaton (Istrii K Muhamad Khatib) binti, 9 Panembahan Kulon bin, 10 Ainul Yaqin (Sunan Giri)

Guru

– Maulana Itsbat (Ayah)

– Syeich Nawawi Al Bantani

Karya

Kitab Tarjuman berupa rangkuman ilmu yang mencakup pembahasan Fiqih, Tauhid, Tajwid, amalan, Faroid.

Kaistimimewaan& Kelebihan

Alm. KH. Moh. Tohir Abd Hamid (Bata-Bata) pada sambutannya dengan Bahasa Madura menyampaikan, pada saat wafatnya KH Abd Hamid, para jama’ah  haji menepikan diri seakan memberikan jalan lewat, banyak yang mengantarkan jenazanya, toko-toko menutupkan barang jualannya, padahal banyak dari mereka tidak kenal.

Ia melanjutkan, saat kuburan beliau hendak digali dan ingin digantikan jenazah yang baru, jenazahnnya ditemukan dalam keadaan sujud sehingga penggalian diurungkan.

(*)

Sumber: FSBI dan sambutan haul yang penulis ambil di lokasi beberapa tahun yang lalu.

 

Bagikan

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Keadaan & Suasana Sekitar

وأمّا علامتُها: فالمشهورُ فيما ذكرَهُ أبيُّ بن كعبٍ عنِ النبيِّ صلّی اللهُ عليه وسلَّم: إنَّ الشمسَ تَطلُعُ فِي صَبِيحةِ يَومِها بَيضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

وفِي بعضِ الأحاديثِ: بَيضَاءَ مِثلَ الطّستِ

ورُوِيَ أيضًا عنه صلّی الله عليه وسلّم: إنَّ أَمَارَةَ لَيلَةِ القَدرِ، أنّهَا ليلةٌ صَافِيَةٌ بَلجَةٌ، كأنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا، ساكِنةٌ سَاجِيةٌ، لَابَردَ فِيهَا ولَا حَرَّ، ولَا يَحِلُّ لِكَوكبٍ أن يُرمی بِهِ فِيها حَتَّی تُصبِحَ، وإنَّ أَمارَتَهَا أنَّ الشمسَ صبيحتَها تخرُجُ مستويةً، ليسَ فِيها شعاعٌ، مثلَ القمرِ ليلةَ البدرِ، لايَحِلُّ للشيطَانِ أن يَخرُجَ معها يومئذٍ

وروَی ابنُ خزيمة مِن حديثِ ابنِ عباس مرفوعًا: ليلةُ القدرِ طَلقَةٌ لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، تُصبِحُ الشمسُ يومَها حمراءَ ضعيفةً

ولِأحمدَ مِن حديثِ عبادة: لَا حَرَّ فيها ولَا بردَ، وإنَّهَا سَاكنةٌ صَاحِيةٌ وقَمرُها سَاطِعٌ

Adapun Tanda-Tandannya: menurut pendapat yang masyhur dari Ubay Bin Ka’ab, dari Nabi Saw, Sesungguhnya matahari terbit di pagi harinya putih tanpa pancaran cahaya.”

Dalam sebagian Hadits, “Putih seperti bejana tembaga.”

Diriwayatkan juga dari Nabi Saw, “Sesungguhnya tanda-tanda malam lailatul qadar, ialah malam yang bersih bercahaya, seakan-akan di dalamnya terdapat bulan yang bercahaya, tenang nan sunyi, tidak dingin dan tidak panas, dan tidak ada bintang (panah api) yang dilemparkan sampai pagi, dan tandanya matahari di pagi harinya terbit dengan sempurna, tidak ada pancaran cahaya, tidak boleh bagi syetan keluar bersamaan di waktu tersebut.”

Ibnu Khuzaimah juga meriwatkan hadits dari Ibnu Abbas secara marfu’,Malam lailatu qadar malam yang lembut, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit di pagi harinya kemerahan dan bersinar lemah.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadist dari ‘Ubadah, “Malam yang tidak panas dan tidak dingin, tenang dan cerah, bulannya bercahaya.”

(*)

Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Wahbah Azzuhaili, Juz 2, 505.

Foto: Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri, Depok, Jawa Barat

Bagikan

Hikmah Dan Bacaan Lailatul Qadar

Amalan Lailatul Qadar

والحكمةُ في إخفائِها: أن يجتهدَ الناسُ في طلبِها، ويَجِدُّوا في العبادةِ طَمَعًا في إدراكِها، كما أُخفيت ساعةُ الإجابةِ يومَ الجمُعةِ. وأُخفي اسمُهُ الأعظمُ في أسمائِه، ورضاهُ في الحسناتِ، إلی غيرِ ذلكَ

والمستحبُّ أن يدعوَ المؤمنُ فيها بأن يقولَ: اللهمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ، تُحِبُّ العَفوَ، فَاعفُ عَنِّي

لِمَا رَوَت عائشةُ رضي اللهُ عنها قالَت: يا رسولَ اللهُ، أرأيتَ إن وَافَقتُ ليلةَ القدرِ. ما ذا أقولُ فيها؟ قال: قولي: اللهمِّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفوَ، فَاعفُ عَنِّي

 

Hikmah Disembunyikannya Lailatul Qadar: supaya orang-orang berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya, giat beribadah karena rakus dalam meraihnya. Ia dirahasiakan sebagaimana dirahasiakannya waktu mustajabah pada hari Jum’at (agar berdo’a sepanjang hari), dirahasiakannya nama agung dari nama-nama agungNya (agar berdo’a dengan semua namaNya), sebagaimana juga dirahasiakannya keridhaanNya dalam kebaikan-kebaikan (agar tidak meremehkan ketaatan), dsb.

Adapun yang disunnahkan pada malam lailatul qadar, bagaimana berdo’a pada malam tersebut, Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, ia berkata, Ya Rasullah, menurutmu jika aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang bisa aku ucapkan? Ia berkata, ucapkan: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka maafkan aku.”

(*)

Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Wahbah Azzuhaili, Juz 2, 505

Foto: Masjid Muhammad Cheng Hoo, Surabaya

 

 

Bagikan