Hubungan Ruh Sesudah Mati

Hubungan batin antara orang wali dan muridnya sesudah meniggal dunia tetap terjalin baik bahkan lebih erat dari pada masa hidupnya sehingga tetap mengalir keberkahannya. Syech Ihsan Muhamad Dahlan Al-Jampasi mengutip dalam kitabnya, Sirajuttholibin:

“Salah satu yang menerangkan tentang hal tersebut adalah qutbul irsyad, Sayyidi Abdullah Bin Alawi Al Haddad, sesunggunya beliau berkata: perhatian seorang wali terhadap keluarga dan orang-orang yang bersandar (terikat) kepadanya sesudah meninggal lebih tinggi perhatiannya dari pada saat hidup, hal demikian karena pada waktu hidup ia disibukkan dengan kewajiban perintah (taklif), sementara pada waktu meninggal, kelelahan (dalam menjalankan kewajiban) tersebut telah gugur darinya. Wali yang hidup mempunyai sisi keistimewaan dan sisi kemanusiaan, kedua sisi tersebut saling mengalahkan satu dengan yang lainnya, lebih-lebih di zaman ini di mana kemanusiaannya lebih unggul (dari pada keistimewaannya), adapun saat wali tersebut telah meniggal maka tidak ada yang lebih unggul kecuali keistimewaannya.”

سراج الطالبين، الشيخ إحسان محمد دحلان الجمفسي الكديري، الجزء الاول: ٤٦٦

ومِمن صَرحَ بذلك قُطبُ الإرشادِ سيّدي عبدُ اللهِ بن علوي الحدّاد فإنه قَالَ رضيَ اللهُ عنه: الوليُّ يكونُ إعتناؤُه بقرابتِه واللائذِين به بعد موتِه أكثرَ من إعتنائِه بهم في حياتِه لأنه في حياتِه كانَ مشغولًا بالتكليفِ وبعد موتِه طُرحَ عنه الأعباءُ، والحيُّ فيه خصوصيةٌ وبشريةٌ وربما غلبتْ إحداهُما الأخرَی وخصوصًا في هذا الزمانِ فإنها تغلِبُ البشريةُ والميتُ ما فيهِ إلا الخصوصيةُ فقط

Syech Ihsan Muhamad Dahlan Al-Jampasi Al-Kadiri merupakan ulama Nusantara yang alim dan ahli tashowwuf, hidup pada kurun waktu sekitar 1319-1371 H. Selain mengarang kitab Sirajutholibin (2 jilid) syarah dari kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Ghazali, ia juga menyusun kitab Manahijul Imdad syarah dari kitab Irsyadul Ibad karya Syech Zainuddin Al-Malibari.

Lokasi Maqbaroh Syech Ihsan, Jampes, Kediri

Syech Ihsan Al-Jampasi dalam mengutip pernyataan Imam Abdullah Alawi Al-Haddad Baalawi, ia menyebutnya dengan qutbul Irsyad (pemimpin penuntun, wali qutub), begitu juga denga sayyidi (pemimpinku) sebagai bukti konkrit akan pengakuan dan rasa hormatnya.

Ulama-ulama nusantara dari kurun masa 13 hijriyah, dimulai dari Syech Nawawi Al-Bantani, wafat 1314 H (lihat postingan sebelumnya), sampai pada muridnya Syaikhona Muhamad Kholil, wafat 1345 H, sampai pada muridnya, Syech Ihsan Jampes, wafat 1371 H, mereka semua sangat mengagumi dan begitu hormat pada saadah Baalawi. Kemudian pada pertengahan masa 14 ijriyah ini ada yang ingin menentang dan menafikan nasabnya, menyebut atasannya sebagai tokoh fiktif? Wal’iyadzu Billah.

sumbersari.net

Bagikan

Syafaat Nabi Di Hari Kiamat

Ada 4 Orang Yang Mendapatkan Syafaat

Nabi bersabda, “Ada empat orang yang akan aku berikan syafaat di hari kiamat: orang yang memuliakan keturunanku, orang yang menunaikan hajat mereka, orang yang bersegera dalam urusan mereka saat mereka membutuhkan, orang yang mencintai mereka dalam hatinya.”

Rasulullah saw bersabda, “sesunggunya Allah menjauhkan putriku Fatimah, anaknya dan orang yang mencintai mereka dari neraka.”

Imam Syafii berkata:

Wahai keluarga Rasulullah, mencintai kalian,

Adalah kewajiban dari Allah di dalam Al-Qur’an

Cukuplah tanda keagungan pangkat kalian bahwa,

Barang siapa yang tidak bershalawat kepada kalian, maka shalatnya tidak diterima.

اسعاد الرفيق، الشيخ محمد بن سالم بن سعيد بابصيل، الجزء الثاني: ٢٤

وفي المشرع عنه عليه الصلاة والسلام: أربعةٌ أنا شفيعٌ لهم يومَ القيامةِ، المُكرمُ لذرّيتي، والقاضي لهم حوائجَهم، والساعي لهم في أمورهم عند اضطرارهم، والمحبُّ لهم بقلبه. وقال عليه الصلاةُ والسلامُ: إن اللهَ فَطمَ إبنتي فاطمةَ وولدَها ومن أحبهم من النارِ. ولله درّ الإمام محمد إدريس الشافعي حيث قال

ياأهلَ بيتِ رسولِ اللهِ حبُّكُمُ * فرضٌ من الله في القرأنِ أنزلَهُ

كفاكُم من عظيمِ القدرِ أنكمُ * من لم يصلّ عليكم لا صلاةَ له

Ulasan Kitab

Kitab Sullamuttaufiq merupakan bagian dari maha karya para saadah Baalawi, ia dikarang oleh Syech Abdullah Bin Husen Bin Tohir Bin Muhamad Bin Hasyim Baalawi. Karya ini menjadi fenomenal karna menjadi kajian dasar, fan pokok yang dipakai hampir seluruh madrasah dan pondok pesantren Aswaja di tanah air. Kitab ini menjadi magnit karena isinya yang mencakup (syumul) dari akidah, fiqih dan tashawwuf. Sehingga tidak salah apabila kitab ini dijabarkan dan disyarah dengan begitu komprehensif lagi oleh beberapa ulama:

1. Syech Muhamad Bin Salim Babasil dalam kitab اسعاد الرفيق و بغية الصديق. Beliau merupakan Allamah, mufti di zamannya yang bermadzhab Syafii. Kitab berjumlah 2 jilid ini menerangkan isi matan dengan rinci dan mendetil.

2. Disyarah oleh Syech Muhamad Nawawi Albantani dalam kitab مرقاة صعود التصديق. Beliau adalah ulama Nusantara yang tidak diragukan lagi otoritas dan kapasitas keilmuannya, di mana pada zamannya ia dikenal sebagai Sayyid Ulama Hijaz. Beliau sangat gigih dalam menulis kitab, selain mensyarah kitab Sullamuttaufiq juga mensyarah kitab Bidayatul Hidayah, Safinatunnaja, menulis kitab Nihayatuzzin, Tafsir Al Munir, dan banyak karangan lainnya yang mencapai seratus lebih. Beliau merupakan Maha Guru dari beberapa ulama Nusantara.

 

Makam Syech Nawawi Albantani Di Jannatul Ma’la, Mekah, di mana makam beliau sudah berumur 130 tahun

Gambaran di atas sejatinya menjadi landasan dasar rel yang kokoh, di mana para muaalif kitab di atas, juga para masyaikh begitu ikhlas menata dan menanamkan keyakinan pada diri kita untuk menghormati para dzurriyah Nabi Muhamad saw, tidak goyah sedikitpun pada badai gelombang yang tidak menentu arahnya dan baru menerpa belakangan.

sumbersari.net

Bagikan

Macam-macam Hukum Basmalah

Ada 5 Hukum Dalam Membaca Bismilah Menurut Sayyid Ahmad Bin Umar Assyatiri

1. Wajib, seperti dalam sholat;

2. Haram terhadap yang diharamkan, seperti meminum khamr;

3. Disunahkan atas setiap sesuatu yang baik, seperti hal yang dianjurkan syariat semisal whudu’, mengarang kitab yang bermanfaat, dll;

4. Makruh terhadap yang dimakruhkan, seperti saat melihat hal yang dimakruhkan;

5. Boleh (mubah) terhadap sesuatu yang mubah yang tidak ada kemuliaan di dalamnya, semisal memindah sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya.

نيل الرجاء، السيد احمد بن عمر الشاطري باعلوي: ٩٤-٩٥

وللبسملةِ خمسةُ أحكامٍ

١- الوجوبُ، كما في الصَّلاةِ

٢- والحرمةُ علی المحرَّمِ لذاته، كشرب الخمرِ

٣- والندبُ علی كلِّ أمرٍ ذي بالٍ، أي حالٍ يُهتمُّ به شرعًا، كالوضوءِ، وكتأليفِ الكتبِ النَّافعةِ، كما تقدَّمَ

٤- والكراهةُ علی المكروهِ لذاتِهِ، كنظرِ ما يُكرهُ نظرُهُ

٥- والإباحةُ علی المباحاتِ التّي لا شرفَ فيها، كنقلِ متاعٍ من مكانٍ إلی اخرَ

Sayyid Ahmad Bin Umar Assyatiri Baalawi cukup produktif dalam menulis kitab. Ia tidak hanya mengarang kitab Nailaurraja’. Di antara karya monumentalnya adalah kitab Al Yaqutunnafis, kitab yang dianggap baik penyusunannya dan menjadi pegangan para pengajar dan pelajar, ia juga menulis Ta’liqat penting pada kitab Bughyatul Musytarsidin karya Sayid Abdurrahman Al Masyhur yang tidak lain adalah orang tua dari gurunya, Sayyid Alawi Bin Abdurahman Al Masyhur.

Sehigga tidak diragukan lagi, betapa besarnya sumbangsih saadah Baalawi pada khazanah keilmuan. Diakui atau tidak, mereka telah mewarnai cakrawala pengetahuan umat manusia, menapaki jalan titian yang mulai, menyampaikan risalah, menasehati umat ke jalan yang diridhai Allah.

sumbersari.net

Bagikan

Menghormati Ahlul Bait Rasulullah

Mereka Laksana Bintang-gemintang 

Menghormati Ahlul Bait Rasulullah berarti mencintai, mengasihi, tidak menyakiti, mencela apalagi membenci dzurriah Nabi Muhammad Saw agar kelak sebagai umatnya, kita mendapatkan safaat agungnya.

Sayyid Abdurahman Bin Muhamad Bin Husen Bin Umar, ulama yang sangat ‘allamah dari klan Baalawi pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin yang menjadi rujukan dan jujukan umat Islam mengutip salah satu sumber dari Al-Qur’an, hadist dan perkataan sahabat dalam kitabnya:

Allah berfirman, “Katakanlah (Muhamad), aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”

Rasulullah bersabda, “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku (ia mengucapkannya tiga kali).

Ia juga bersabda, “Barang siapa yang ingin bertawasul dan ingin aku memberikan syafaat kelak di hari kiamat, maka ia hendaklah mempererat hubungan dengan ahli baitku dan memberikan kebahagiaan kepada mereka.”

Sahabat Abu Bakar ra berkata di atas mimbar, “Jagalah (pesan) Muhamad di dalam ahli baitnya (tidak menyakiti).

Ia juga berkata kepada mereka (para ahlul bait), “Menyambungi kalian lebih aku senangi untuk aku sambung dari pada kerabatku sendiri.”

بغية المسترشدين، ٢٩٦

قوله تعالی (قُل لا أسئلُكم عليه اجرا إلا المودة في القربی) وقوله عليه الصلاةُ والسلامُ أُذَكِّرُكُم اللهَ في أهلِ بيتي ثلاثًا، وقوله من أرادَ التوسلَ إليَّ وأن يكون له عندي يد أشفعُ له بها يومَ القيامة فليصل أهل بيتي ويدخل السرورَ عليهم، وقول الصدّيق رضي الله عنه علی المنبرِ أرْقُبوا محمدًا في اهل بيته، وقوله لهم لأن أصلكم احب إليَّ من اصل قرابتي

Akhir-akhir ini ada gerakan yang meragukan klan Baalawi sebagai  bagian dari dzurriah Nabi, mereka mulai berani mengemukakan hujjah dan pandangannya dengan nerasi-nerasi yang negatif, memplesetkan nama, mempertanyakan asal usul datuknya, mencemooh yang tidak mencermenkan adab diri sebagai seorang muslim kepada Rasulullah saw.

Foto sumbrersari.net: suasana lapangan sebelum Habib Umar Bin Hafidzh mengisi Tablik Akbar di Stadion Joko Samudro, Gresik, 2023

Terlepas dari motivasi apapun di atas, mereka kata Imam Addiba’i dalam gubahan syiirnya adalah sebagai tonggak keamanan dunia, bintang-gemintang yang menerangi kegelapan bagi pengelana malam.

أهلُ بيتِ المصطفی الطُّهُرِ

هُم أمان الارضِ فاذَّكِرِ

شُبِّهُوا بالأَنجُمِ  الزُّهُرِ

مثلَ ما قد جاءَ في السُّنَنِ

Keluarga Nabi yang suci,

Mereka pengaman bumi, maka ingatlah!

Mereka seumpama bintang-bintang gemerlapan,

Sebagaimana dinyatakan dalam hadist-hadist.

sumbersari.net

Bagikan

Meminag Lailatul Qadar*

Berjodoh Dengan Malam Yang Dirindukan

Di antara bentuk keagungan Allah dan i’jaznya Al-Qur’an adalah sebagaimana Allah menetapkan atau menurunkan sebuah surat yang disebut dengan Al Qadr di dalam Al-Qur’an, yang mana surat tersebut menjelaskan secara gamblang tentang keutamaan malam Lailatul Qadar. Disebutkan di dalamnya bahwa malam itu adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan dan pada malam itu juga Al-Qur’an diturunkan sebagaimana firman Allah:

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (Al Qadr 97: 1).

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.” (Ad Dukhaan 44: 3)

Disebutkan dalam kitab Riyadu As-Shalihin tentang penamaan Lailatul Qadar, dikatakan bahwa Lailatul Qadar itu bermakna kemuliaan (الشرف) karena seseorang yang tidak mempunyai kemuliaan atau kebaikan sama sekali jika pada waktu itu bertepatan dengan Lailatul Qadar kemudian mengerjakan kebaikan maka orang tersebut tercatat sebagai orang yang mempunyai kemuliaan dan kuantitas amalnya melebihi dari seribu bulan. Imam Nawawi menyebutkan tentang penamaan Lailatul Qadar dikarenakan pada malam itu para malaikat menuliskan beberapa takdir, rizki, kematian, dll.

Diceritakan dari Ka’ab beliau berkata, “Sesungguhnya Allah memilih waktu  (yang agung dan mustajab) di sepanjang malam dan siang, maka menjadikan di antaranya shalat lima waktu, memilih beberapa hari maka menjadikan di antaranya hari Jum’at, memilih bulan maka menjadikan darinya bulan Ramadhan, begitu juga memilih malam maka menjadikan darinya malam Lailatul Qadar, dan juga memilih tempat di permukaan bumi maka menjadikan darinya masjid.”

Bagaimana kita tidak merindukan dan menginginkan untuk menjumpai Lailatul Qadar sedangkan beribadah di malam itu sama halnya dengan beribadah seribu bulan, dan juga malam Lailatul Qadar ini menjadi ciri has “khususiyyah” bagi umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bahwa: sesungguhnya Allah SWT menganugerahkan terhadap umatku malam Lailatul Qadar dan tidak menganugerahkannya kepada umat sebelumnya.

Imam Baihaqi berkata dalam kitabnya, “Lailatul Qadar yang disebutkan dalam Al-Qur’an beserta keutamaannya itu akan tetap ada sampai hari kiamat dan itu akan terjadi setiap bulan Ramadhan.”

Adapun mengenai ketetapan waktu malam Lailatul Qadar masih banyak kontroversi di antara para ulama, bukan hanya di masa sekarang tetapi mulai sejak masa sahabat, di antaranya ada yang berpendapat malam ke-21 Ramadhan, malam ke-23 Ramadhan, malam ke-25 Ramadhan, malam ke-27 Ramadhan, malam ke-29 Ramadhan, dan juga malam terakhir bulan Ramadhan, namun menurut mayoritas ulama bahwa paling tepat untuk menggapai Lailatul Qadar pada malam tanggal ke-27 Ramadhan, dan disunnahkan untuk menggapainya di semua malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf agar supaya kita semua semangat dalam melaksanakan ibadah di sepanjang malam bulan Ramadhan. Diceritakan dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa: Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih bersemangat dalam beribadah dari pada malam yang lain dan membangunkan keluarganya untuk melaksanakan ibadah. Tentunya seseorang yang mencintai sesuatu lebih banyak menyebutnya, begitu juga dengan seseorang yang merindukan dan menginginkan malam Lailatul Qadar pasti bergegas untuk menyambut kerinduannya.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menyambut Lailatul Qadar:

• Memperbanyak do’a sebagaimana do’a yang diajarkan oleh Sang Baginda kepada Sayyidah Aisyah:

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

• Memperbanyak ibadah sunnah karena pekerjaan taat di bulan Ramadhan mempunyai keutamaan yang agung dan pahalanya berlipat ganda;

• Memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil (mengucapkan kalimat tauhid), memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Imam Zuhri berkata, “Membaca tasbih di bulan Ramadhan lebih utama dari pada membaca seribu tasbih di selain bulan Ramadhan.”

• Membersihkan hati dari kesibukan duniawi dan menyucikannya dari berbagai macam penyakit hati seperti memutus silaturahmi, dengki, membenci orang lain, bermusuhan, dll.

Perlu kita sadari bahwa mengutamakan Lailatul Qadar dari pada beribadah seribu bulan itu bisa dihasilkan jika kita mengerjakan kebaikan dan ketaatan di malam itu karena waktu tidak akan memberikan keberkahan kepada kita jika tidak digunakan dengan baik.
Semoga kita semua dijodohkan dengan malam Lailatul Qadar dan semangat dalam beribadah, tidak putus asa dengan 20 hari Ramadhan yang berlalu karena masih punya sepuluh hari ke depan untuk semakin giat dan semangat dalam beribadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

نصف رمضان ذهب # ونصفه الباقي أغلى من الذهب

“Setengah Ramadhan telah berlalu, dan setengahnya lagi lebih berharga dari emas.”

*Khoirul Anam

Bagikan

Hikmah Disyari’atkannya Puasa

 

Hikmah & Tingkatan Puasa
Sebagaimana yang sudah jamak diketahui bahwa bulan puasa adalah sebuah momentum yang ditunggu-tunggu dan dirayakan oleh umat Islam dalam setiap tahunnya, maka dari itu seluruh umat Islam sangat gembira dan bahagia jika hari keberkahan itu sudah tiba karena di dalamnya terdapat beberapa kemuliaan dan keberkahan yang tidak bisa diraih di hari dan di bulan yang lain.
Di antara beberapa hikmah disyari’atkannya puasa Ramadhan adalah:

• Puasa merupakan wasilah/ perantara untuk memperbaiki diri dalam bertakwa kepada Allah SWT, karena ketika seseorang sudah terbiasa mencegah diri dari perkara yang mubah seperti makan dan minum karena murni mengharap ridho Sang Ilahi dan takut dari amarah dan siksaan-Nya, maka hal demikian juga terasa mudah untuk menghindar dari perkara yang diharamkan, dan menghiasi diri untuk bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah, Ayat: 183.

• Puasa merupakan wasilah/ perantara untuk melatih diri dengan keikhlasan, karena sejatinya orang yang berpuasa tahu bahwa tidak seorangpun yang mengetahui terhadap hakikat puasanya kecuali Allah SWT, jika orang yang berpuasa itu berkeinginan untuk meninggalkan puasanya tanpa sepengetahulan orang lain akan terjadi, namun tidak demikian yang mereka inginkan kecuali ridho Sang Ilahi. Apabila sudah terdidik dan terlatih dengan sifat yang mulia tersebut maka sudah tidak diragukan lagi bahwa jiwa itu dihiasi dengan keikhlasan.

• Puasa merupakan wasilah/ perantara untuk bersyukur, karena dengan dilarangnya seseorang dari nikmat yang diberikan oleh Allah di waktu berpuasa mulai dari makan, minum dll, maka menjadi jelas kepada mereka terhadap agungnya nikmat tersebut, juga bisa merasakan apa yang diderita orang fakir dan miskin dalam merasakan lapar dan haus.

Puasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus, Imam Hafidz Ibnu Hajar berkata bahwa: Imam Ibnu ‘Arabi menukil dari sebagian para zuhhad bahwa puasa itu ada empat tingkatan:
1. Shiyamul Awam: menahan diri dari lapar, haus dan jimak;

2. Shiyamu khawashil awam: menahan diri dari lapar, haus dan jimak, serta menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah baik dari segi perkataan atau pekerjaan;

3. Shiyamul khowash: menahan diri untuk tidak menyebut atau mengingat selain Allah dan beribadah kepadanya;

4. Shiyamu khawashil khowash: menahan diri dari selain Allah (untuk sibuk dengan selain Allah), mereka tidak pernah lupa kepada Allah walaupun sekedip mata, hati mereka selalu bergantung kepada Allah sampai hari kiamat.

Sudah tidak dipungkiri lagi dengan poin yang pertama bahwa setiap orang (Islam) pasti mengerjakannya, berbeda dengan poin yang ke 2,3,4 yang tidak mudah untuk melaluinya sebagaimana membalikkan telapak tangan, dibutuhkan perjuangan dan mujahadah sembari memohon kepada Allah untuk meminta pertolongan. Imam Ghozali berkata, “Hati itu berpuasa dari kepentingan yang berupa duniawi, dari perselisihan dunia, dan menjauhkan diri dari selain Allah dengan keseluruhan”.

Ulama fikih menyadari bahwa puasa itu mengajarkan dan mengajak kita untuk bersikap lemah lembut kepada fakir miskin, maka dari kelemah lembutan itulah mengantarkan kita untuk menunaikan rukun Islam yaitu zakat. Tidak hanya itu saja, puasa juga mengajarkan kita untuk saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sedangkan ulama tasawuf menyadari bahwa dalam puasa itu terdapat wasilah yang agung untuk menyucikan hati dari beberapa hal keji dan munkar, maka tingkatkanlah kebaikan dan ketaatan di bulan yang penuh berkah seakan-akan kita tidak akan bertemu lagi dengan bulan tersebut agar kita lebih semangat dan gigih dalam beribadah.

Perlu diketahui bahwa buah dan inti dari semua ini adalah membentuk ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semoga kita selalu diberi keberkahan dalam hidup sehingga terasa mudah untuk melaksanakan kebaikan dan ketaatan kepada Sang Khaliq.

Khoirul Anamۢ/sumbersari.net

Bagikan

10 Amalan Bulan Ramadhan

Di Antara Amaliyah Ramadhan

1. Berpuasa (الصيام)

2. Shalat terawih (القيام)

3. Membaca Al-Qur’an (القران)

4. Memperbanyak dzikir (الذكر)

5. Berdo’a (الدعاء)

6. Bershodaqah (الصدقة)

7. Bersilaturrahim (صلة الرحم)

8. Memelihara pandangan (غض البصر)

9. Menjaga lisan ( حفظ اللسان)

10. Beriktikaf (الاعتكاف)

*sumbersari.net

Bagikan

Memilih Pemimpin*

Jika tidak ada aral melintang, Rabu besok (14/2/24) akan ada hajatan dan pesta besar, yaitu pemungutan surat suara Pemilu 2024, di mana hal krusial dan mendasar dari pemilihan lainnya adalah pemilihan presiden dan wakil presiden untuk menahkodai kapal besar bernama Indonesia untuk masa lima tahun mendatang.

Masih ada waktu beberapa jam ke depan bagi para swing voters (pemilih beralih), undecided voters (pemilih belum menentukan sikap) untuk berpikir dan menimbang ulang siapa kira-kira nahkoda dari ketiga calon yang ada untuk membawa rumah besar Indonesia yang luas teritorialnya dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote dengan jumlah 278,6 juta penduduk jiwa?

Dalam sebuah kompetisi, menang kalah adalah keniscayaan dan hukum pasti. Tugas kita bagaimana berusaha sekuat tenaga untuk menggapai hasil yang maksimal. Perjuangan tidak harus menang, setidaknya sudah berikhtiar melewati tahapan demi tahapan dari sebuah proses panjang.

Dengan memenangi pertarungan seseorang belajar bersyukur, dengan menelan kekalahan ia belajar untuk bersabar. Yang kalah belajar berdiri tegak, yang menang menahan diri dari euforia berlebihan. Tidak ada yang sia-sia dalam berjuang, terdapat hikmah besar yang dapat diambil dari keduanya.

Dalam memilih pemimpin ada sebuah do’a yang diajarkan:

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُناَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ

“Ya Allah, janganlah kuasakan (penguasa) kepada kami karena dosa-dosa kami, orang yang tidak takut kepadaMu dan tidak belas kasihan kepada kami, wahai dzat yang berbelas kasihan.”

Dari redaksi do’a di atas, setidaknya ada 2 kriteria seorang pemimpin yang ideal dan layak menjadi referensi dalam memilih:

1. Orang beriman (من يخافك), yaitu berdasar keyakinan yang kuat, spritualitas yang tinggi, pengetahuan yang mumpuni, taat dan mempunyai rasa takut terhadap Sang Pencipta.  Pemimpin yang memenuhi kriteria ini akan menjalankan roda kepemimpinannya pada rel dan aturan yang benar, membawa gerbong lokomotifnya tanpa ogal-ogalan, berlayar mengantarkan para penumpangnya menuju pulau impian, baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. 

2. Peduli dan merakyat (من يرحمنا). Pemimpin dengan kriteria ini punya keberpihakan pada rakyat lemah, mengayomi pada semua golongan, berempati dengan tulus, tidak menindas dan dzalim pada rakyat jelata. Hukum berlaku tidak seperti sebilah pisau, tajam ke bawah tumpul ke atas.

Pertanyaannya kemudian, siapa dari ketiga paslon yang layak menjadi pemimpin idealis masa mendatang? Jawabannya ialah setiap paslon yang mendekati kriteria di atas, berkomitmen untuk membawa indonesia menjadi negeri yang maju, makmur, berkeadilan sosial, menjaga persatuan dan melindungi segenap warganya dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Dalam memilih bagaimana obyektifitas pilihan tidak berdasarkan kepentingan sesaat, politik uang, pencitraan semu, gimmick yang terkesan main-mainan. Semoga negeri kita aman, tentram dan kondusif, dilindungi dari segala mara bahaya, perpecahan disentegrasi dan polarisasi antar umat.

* Penulis Adalah Pengasuh PP Sumber Sari

Bagikan

Kebohongan Atas Klaim Hak Historis Israil

Oleh: Khoirul Anam

(Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar, Alumni PP Sumber Sari)

Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka memiliki hak historis atas Yerusalem dan Palestina, dan berdasarkan dugaan hak tersebut, mereka mempunyai hak untuk berimigrasi ke Palestina dari seluruh dunia dan mendirikan Negara Yahudi. Mereka tidak menganggap dirinya sebagai orang asing yang berpindah dan berimigrasi dari suatu tempat, tetapi justru merekalah yang menjadi pemilik tanah dan penduduk sah yang kembali ke tanah airnya di Palestina.

Propaganda Zionis berhasil memutarbalikkan fakta sejarah di sebagian banyak kalangan penduduk di Eropa dan Amerika, terutama yang berkaitan dengan dugaan hak historis kaum Yahudi atas Palestina, propaganda palsu tersebut telah menetap di benak dunia Barat, sehingga klaim sejarah memiliki peran penting dalam membangun Negara Israel, misalnya, pada tahun 1917 M,  Kementerian Inggris mengambil alih kekuasaan atas Palestina. Dugaan hak sejarah sebagai dalih untuk mengeluarkan Deklarasi Balfour, begitu juga Perserikatan Bangsa-Bangsa mengandalkan hal tersebut pada tanggal 2 Juli 1922 M dalam menyetujui dokumen mandat Inggris untuk Palestina yang dikenal dengan instrumen Mandat. Ketika mendeklarasikan berdirinya Negara Israel, mereka menyatakan: Tanah Israel adalah tempat kelahiran orang-orang Yahudi, identitas spiritual, agama dan nasional, dan di sini mereka mencapai kemerdekaan, menciptakan budaya yang memiliki dampak nasional dan global.

Masjid Kubah Shakhrah, Yerusalem

Setelah diasingkan dari Tanah Israel, orang-orang Yahudi tetap setia pada bumi yang diklaim, di semua Negara tempat mereka berada dan tersebar, mereka tidak pernah berhenti berdo’a dan berharap untuk kembali ke Negara tersebut. Untuk menanamkan rasa nasionslis dan kemerdekaan Negara asalnya mereka dimotivasi dengan hubungan klaim sejarah di atas. Dengan dugaan hak historis tidak mendasar ini, Israel memberlakukan Hukum Kepulangan, yang memungkinkan setiap orang Yahudi di dunia untuk kembali ke tanah airnya, berkontribusi lebih besar membangun Negara Yahudi.

Klaim sejarah ini menjadi landasan dukungan Negara-Negara Barat terhadap Zionisme, sampai-sampai umat Katolik – yang merupakan kelompok Kristen yang paling memusuhi orang Yahudi – terhanyut oleh propaganda Zionis, yang dimonopoli oleh klaim hak sejarah orang-orang Yahudi, dan membahas masalah orang-orang Yahudi di tingkat tertinggi mereka di Vatikan, Mereka mencoba mengubah posisi baru mereka terhadap Israil. Di sisi lain orang-orang Yahudi melakukan upaya mati-matian untuk memberikan bukti hak historis orang-orang Yahudi atas Palestina.

Peta Palestina dari masa ke masa yang terus menyusut 

Sejarawan Yahudi dan Eropa lainnya menulis banyak buku mengenai hal ini. Shlomo Sand menggambarkan penelitian ini dengan mengatakan: Tujuan terpenting di balik makalah ini adalah untuk meyakinkan bahwa tanah air ini (Palestina) adalah milik orang-orang Yahudi saja, dan bukan milik segelintir orang (Palestina) yang datang ke sana secara kebetulan dan tanpa sejarah secara nasional bagi mereka. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh bangsa tersebut untuk menduduki tanah air mereka, dan kemudian melindunginya dari rencana jahat musuh, hanyalah perang belaka, sementara penduduk lokal adalah pelaku kriminal yang membenarkan tentang dosa dan kejahatan, betapapun mengerikannya hal itu.

Klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka mempunyai hak historis atas tempat tersebut adalah klaim yang tidak dibenarkan oleh sejarah, begitu juga ketergantungan para sejarawan mereka pada Perjanjian Lama untuk mencoba mengadaptasi teks-teks tersebut demi perluasan sejarah di Palestina.  Peneliti Alkitab menemukan bahwa istilah “Tanah Perjanjian” tidak di sebutkan dalam Kitab Suci, dan tanah itu disebut Kan’an, disebutkan enam puluh enam kali, termasuk lima puluh satu kali di antaranya ada dalam lima buku yang disebut Kitab Syariah, sedangkan nama Tanah Israel hanya disebutkan dua puluh sembilan kali dimulai dari Kitab Yehezkiel, dan nama tersebut tidak ada Pada lima kitab yang memuat sejarah para nabi sampai kematian Nabi Musa As, adapun nama Palestina Disebutkan dua ratus empat puluh delapan kali.

Sejarawan terkenal Herodotos (sejarawan Yunani di abad ke-5 M) menganggap atau menggolongkan Palestina adalah bagian dari negari Syam, dan penting untuk dicatat bahwa dia menyebut Negara ini sebagai bagian dari negeri Syam sebelum muncul kontroversi mengenai Palestina, bahkan jauh sebelum ada isu Palestina.

Pidato Dubes Israil di DK PBB yang diwarnai aksi walk out Menlu Indonesia

Namun sejarah telah membuktikan bahwa mereka datang belakangan bukan lebih awal, di mana nenek moyang mereka tidak menetap di sana, mereka tidak memasukinya kecuali karena rasa takut, kerajaan mereka tidak berdiri kecuali pada masa kenabian Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As saja, dan bahwa Allah menetapkan atas mereka perpindahan setelah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihima as-salam, lalu dari mana mereka mengacu pada sejarah?

Hubungan kaum Yahudi dengan Palestina terputus sejak mereka diusir oleh Hadrian, Kaisar Romawi pada tahun 135 M. Kaum Yahudi terus menyebar ke luar Palestina selama lebih dari delapan belas abad, dan tidak mungkin diklaim kedaulatan atas wilayah yang tidak dapat mereka kuasai selama berabad-abad.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi telah kehilangan hak apa pun atas Palestina sebagai akibat dari pengabaian dan keberadaan perolehan hak atas kewarganegaraan lain yaitu nasionalisme Arab, sedangkan hak orang Arab di Palestina didasarkan pada hak penaklukan, konsesi, dan kerja keras. Adapun hak penaklukan diperoleh pada saat orang Arab memasuki Palestina sebagai penakluk dan mengalahkan bangsa Romawi pada abad ketujuh Masehi, dan peperangan pada masa-masa tersebut merupakan sarana untuk memisahkan mereka dalam Perselisihan dan cara yang sah untuk mendapatkan kepemilikan atas wilayah yang diserbu. Adapun konsesinya, dilakukan sesuai dengan perjanjian damai yang disepakati antara Umar bin Al-Khattab Ra dan Patriark di Yerusalem, Adapun undang-undang pembatasan yang diperoleh, diwakili oleh pemukiman Arab di Palestina selama tiga belas abad di mana identitas Arab Yerusalem diperkuat. Otoritas politik Arab dan Muslim dikukuhkan dengan pelaksanaan otoritas yang terus menerus selama 100 abad ini.

Dengan demikian terbantahkanlah klaim historis Yahudi yang mengaku mempunyai kekuasan atas Yerusalem dan Palestina.

Referensi: Kebijakan Kolonial dan Zionis terhadap Palestina (Duktur Hasan Shobri Al-khawli)Majalah Al-Azhar As-syarif.

(*)

Bagikan