Kebohongan Atas Klaim Hak Historis Israil

Oleh: Khoirul Anam

(Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar, Alumni PP Sumber Sari)

Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka memiliki hak historis atas Yerusalem dan Palestina, dan berdasarkan dugaan hak tersebut, mereka mempunyai hak untuk berimigrasi ke Palestina dari seluruh dunia dan mendirikan Negara Yahudi. Mereka tidak menganggap dirinya sebagai orang asing yang berpindah dan berimigrasi dari suatu tempat, tetapi justru merekalah yang menjadi pemilik tanah dan penduduk sah yang kembali ke tanah airnya di Palestina.

Propaganda Zionis berhasil memutarbalikkan fakta sejarah di sebagian banyak kalangan penduduk di Eropa dan Amerika, terutama yang berkaitan dengan dugaan hak historis kaum Yahudi atas Palestina, propaganda palsu tersebut telah menetap di benak dunia Barat, sehingga klaim sejarah memiliki peran penting dalam membangun Negara Israel, misalnya, pada tahun 1917 M,  Kementerian Inggris mengambil alih kekuasaan atas Palestina. Dugaan hak sejarah sebagai dalih untuk mengeluarkan Deklarasi Balfour, begitu juga Perserikatan Bangsa-Bangsa mengandalkan hal tersebut pada tanggal 2 Juli 1922 M dalam menyetujui dokumen mandat Inggris untuk Palestina yang dikenal dengan instrumen Mandat. Ketika mendeklarasikan berdirinya Negara Israel, mereka menyatakan: Tanah Israel adalah tempat kelahiran orang-orang Yahudi, identitas spiritual, agama dan nasional, dan di sini mereka mencapai kemerdekaan, menciptakan budaya yang memiliki dampak nasional dan global.

Masjid Kubah Shakhrah, Yerusalem

Setelah diasingkan dari Tanah Israel, orang-orang Yahudi tetap setia pada bumi yang diklaim, di semua Negara tempat mereka berada dan tersebar, mereka tidak pernah berhenti berdo’a dan berharap untuk kembali ke Negara tersebut. Untuk menanamkan rasa nasionslis dan kemerdekaan Negara asalnya mereka dimotivasi dengan hubungan klaim sejarah di atas. Dengan dugaan hak historis tidak mendasar ini, Israel memberlakukan Hukum Kepulangan, yang memungkinkan setiap orang Yahudi di dunia untuk kembali ke tanah airnya, berkontribusi lebih besar membangun Negara Yahudi.

Klaim sejarah ini menjadi landasan dukungan Negara-Negara Barat terhadap Zionisme, sampai-sampai umat Katolik – yang merupakan kelompok Kristen yang paling memusuhi orang Yahudi – terhanyut oleh propaganda Zionis, yang dimonopoli oleh klaim hak sejarah orang-orang Yahudi, dan membahas masalah orang-orang Yahudi di tingkat tertinggi mereka di Vatikan, Mereka mencoba mengubah posisi baru mereka terhadap Israil. Di sisi lain orang-orang Yahudi melakukan upaya mati-matian untuk memberikan bukti hak historis orang-orang Yahudi atas Palestina.

Peta Palestina dari masa ke masa yang terus menyusut 

Sejarawan Yahudi dan Eropa lainnya menulis banyak buku mengenai hal ini. Shlomo Sand menggambarkan penelitian ini dengan mengatakan: Tujuan terpenting di balik makalah ini adalah untuk meyakinkan bahwa tanah air ini (Palestina) adalah milik orang-orang Yahudi saja, dan bukan milik segelintir orang (Palestina) yang datang ke sana secara kebetulan dan tanpa sejarah secara nasional bagi mereka. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh bangsa tersebut untuk menduduki tanah air mereka, dan kemudian melindunginya dari rencana jahat musuh, hanyalah perang belaka, sementara penduduk lokal adalah pelaku kriminal yang membenarkan tentang dosa dan kejahatan, betapapun mengerikannya hal itu.

Klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka mempunyai hak historis atas tempat tersebut adalah klaim yang tidak dibenarkan oleh sejarah, begitu juga ketergantungan para sejarawan mereka pada Perjanjian Lama untuk mencoba mengadaptasi teks-teks tersebut demi perluasan sejarah di Palestina.  Peneliti Alkitab menemukan bahwa istilah “Tanah Perjanjian” tidak di sebutkan dalam Kitab Suci, dan tanah itu disebut Kan’an, disebutkan enam puluh enam kali, termasuk lima puluh satu kali di antaranya ada dalam lima buku yang disebut Kitab Syariah, sedangkan nama Tanah Israel hanya disebutkan dua puluh sembilan kali dimulai dari Kitab Yehezkiel, dan nama tersebut tidak ada Pada lima kitab yang memuat sejarah para nabi sampai kematian Nabi Musa As, adapun nama Palestina Disebutkan dua ratus empat puluh delapan kali.

Sejarawan terkenal Herodotos (sejarawan Yunani di abad ke-5 M) menganggap atau menggolongkan Palestina adalah bagian dari negari Syam, dan penting untuk dicatat bahwa dia menyebut Negara ini sebagai bagian dari negeri Syam sebelum muncul kontroversi mengenai Palestina, bahkan jauh sebelum ada isu Palestina.

Pidato Dubes Israil di DK PBB yang diwarnai aksi walk out Menlu Indonesia

Namun sejarah telah membuktikan bahwa mereka datang belakangan bukan lebih awal, di mana nenek moyang mereka tidak menetap di sana, mereka tidak memasukinya kecuali karena rasa takut, kerajaan mereka tidak berdiri kecuali pada masa kenabian Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As saja, dan bahwa Allah menetapkan atas mereka perpindahan setelah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihima as-salam, lalu dari mana mereka mengacu pada sejarah?

Hubungan kaum Yahudi dengan Palestina terputus sejak mereka diusir oleh Hadrian, Kaisar Romawi pada tahun 135 M. Kaum Yahudi terus menyebar ke luar Palestina selama lebih dari delapan belas abad, dan tidak mungkin diklaim kedaulatan atas wilayah yang tidak dapat mereka kuasai selama berabad-abad.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi telah kehilangan hak apa pun atas Palestina sebagai akibat dari pengabaian dan keberadaan perolehan hak atas kewarganegaraan lain yaitu nasionalisme Arab, sedangkan hak orang Arab di Palestina didasarkan pada hak penaklukan, konsesi, dan kerja keras. Adapun hak penaklukan diperoleh pada saat orang Arab memasuki Palestina sebagai penakluk dan mengalahkan bangsa Romawi pada abad ketujuh Masehi, dan peperangan pada masa-masa tersebut merupakan sarana untuk memisahkan mereka dalam Perselisihan dan cara yang sah untuk mendapatkan kepemilikan atas wilayah yang diserbu. Adapun konsesinya, dilakukan sesuai dengan perjanjian damai yang disepakati antara Umar bin Al-Khattab Ra dan Patriark di Yerusalem, Adapun undang-undang pembatasan yang diperoleh, diwakili oleh pemukiman Arab di Palestina selama tiga belas abad di mana identitas Arab Yerusalem diperkuat. Otoritas politik Arab dan Muslim dikukuhkan dengan pelaksanaan otoritas yang terus menerus selama 100 abad ini.

Dengan demikian terbantahkanlah klaim historis Yahudi yang mengaku mempunyai kekuasan atas Yerusalem dan Palestina.

Referensi: Kebijakan Kolonial dan Zionis terhadap Palestina (Duktur Hasan Shobri Al-khawli)Majalah Al-Azhar As-syarif.

(*)

Bagikan

Do’a Memasuki Madinah Al Munawwaroh

Madinah Kota Suci Kedua Umat Islam

أَللَّهُمَّ هٰذَا حَرَمُ نَبِيِّكَ،  فَاجعَلهُ لِي وِقَايَةً مِنَ النَّارِ، وَأَمَانًا مِنَ العَذَابِ،  وَسُوءِ الحِسَابِ، وَافتَحْ لِي اَبوَابَ رَحمَتِكَ، وَارزُقنِي فِي زِيَارَةِ نَبِيِّكَ مَا رَزَقتَهُ اَولِيَاءَكَ وَاَهلَ طَاعَتِكَ، وَاغفِر لِي وَارحَمنِي يَا خَيرَ مَسئُولٍ

“Ya Allah ini tanah suci nabiMu, jadikanlah ia pelindungku dari api neraku, keamanan dari siksa dan buruknya hisab, bukakanlah bagiku rahmatMu, karuniakan aku dalam menziarahi nabiMu sebagaimana yang dikaruniakan pada kekasihMu dan hambaMu yang taat.

Bagikan

Do’a Safar

Saat Naik Kendaraan/ Pesawat

بِسمِ اللّٰهِ الرَّحمٰنِ الرَّحِيم، اللّٰهُ اَكبَر اللّٰهُ اَكبَر اللّٰهُ اَكبَر، سُبحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقرِنِينَ وَإِنَّا إلَی رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ، اللّٰهُمَّ إنَّا نَسئَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا البِرَّ وَالتَّقْوَی وَمِنَ العَمَلِ مَا تَرضَی، اللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَينَا سَفَرَنا هٰذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعدَهُ، اللّٰهُمَّ اَنتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالخَلِيفَةُ فِي الاَهلِ، اللّٰهُمَّ إنّي أَعُوذُبِكَ مِن وَْعثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ المَنظَرِ وَسُوءِ المُنقَلَبِ فِي المَالِ وَالاَهلِ وَالوَلَدِ

Dan ketika kembali dari perjalanan membaca do’a di atas dan menambahkan:

أٓيِبُونَ تَائِبُونَ حَامِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

Bagikan

Selamat Tinggal, Kawan!


Menakar Diri Kita

Masa berlaku tahun 1444 H akan segera tutup usia, tepatnya saat matahari tenggelam (18/7) senja hari. Di masa-masa injury time ini, kita harus memaksimalkannya dengan sempurna.

Rasa kesal akan mewarnai penutupan tahun. Penyesalan selalu datang di akhir sebuah cerita. Kecewa dan menyesal akan terus terngiang-ngiang atas ketidak berdayaan. Kita tidak bisa kembali ke peristiwa waktu, meskipun sedetik waktu yang lampau.

Kelalaian, keteledoran akan terpampang lebar di depan mata. Selama ini kita bekerja mengikuti arah angin, membuang-buang waktu luang, berangan-angan panjang, beribadah dengan malas. Target dan capaian tidak berakhir manis. Kita tidak bisa bersahabat dengan kerasnya waktu yang terus berputar tanpa jeda.

Mari kita bertanya sejenak sambil menundukkan kepala sehubungan bertambah senjanya usia kita: siapa diri kita, di titik mana dan ke mana diri kita mau melangkah?

Sejatinya kita yang banyak alpa ini lebih banyak diam dari pada bicara, beramal dari pada berteori, berbanyak-banyak bertaubat dan ber-istighfar atas ketidak berdayaan ini.

Mari kita gantungkan asa dan harapan di tahun baru ini selama nafas dikandung badan, tahun yang akan mengubah wujud diri kita menjadi manusia lebih baik, produktif, bermanfaat untuk orang banyak. Mari kita berjanji dalam hati untuk lebih dekat kepadaNya. Amin.

Selamat Tinggal Tahun 1444 H.

#sumbersari.net

 

Bagikan

Mencintai Keluarga Nabi

 

Keluarga Pilihan

Mari tanamkan rasa cinta pada keluarga Rasulillah saw, menghormati dan mengagungkannya. Cintai karena kemuliaan nasabnya yang bersambung kepadanya, tanpa ada keraguan sedikit pun.

Wacana tes DNA yang digaung-gaungkan selama ini hanya akan mengaburkan keyakinan dan keraguan pada ajaran yang telah ditanamkan oleh para ulama salafusshalih, dan para masyaikh yang begitu hormat pada zurriyah Nabi, sebab mencintai Nabi berarti mencintai seluruh keluarga besar dan keturunannya tanpa terkecuali.

Jangan seperti kata pepatah, setitik nila rusak susu sebelanga. Jika ada sikap yang tidak dusetujui dari mereka, jangan mengikutinya sekiranya menyalahi aturan syariat dan adat kebiasaan. Di dalam hati seorang mukmin tetap harus ada rasa hormat, karena dalam diri Ahlu Bait melekat nama dan jiwa yang mulia dan agung Nabi Muhamad saw.

Dan seharusnya kita tidak terlalu jauh mengikuti polemik yang ada, ikut mengomentari dan melabeli sesuatu yang negatif jika tidak mempunyai kapasitas untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.  orang yang tidak suka terhadap zurriyah nabi, tanggung jawabannya sangat berat.

Dengan bangganya berkata Imam Syafii rahimahullah:

يَا أٓلَ بَيتِ رسولِ اللهِ حُبُّكُمُ
فَرضٌ من اللهِ في القرأنِ اَنزَلَهُ

يَكفِيكُم مِن عَظيمِ الفَخرِ أنكُمُ
مَن لم يُصَلِّ عَلَيكم لَا صَلاةَ لهُ

Wahai kelurga rumah Rasulullah,
Mencintai kalian kewajiban dari Allah di dalam Al-Qur’an yang diturunkan.

Cukup bagi kalian kebanggaan yang agung,
Barang siapa yang tidak bershalawat kepada kalian (dalam shalat), maka shalatnya tidak ada.

Karena kilauan kemuliaannya, keluarga Nabi terus menerus disebutkan dalam shalat sesudah nama agung Nabi Muhamad saw dalam tasyahhud, sebelum penyebutan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

(*)

Bagikan

Duta Al-Qur’an

Mulia Bersama Al-Qur’an

وثبت في صحيحي البخاري ومسلم رحمهما الله تعالی، عن عثمانَ رضي الله عنه، عن سولِ اللهِ صلی الله عليه وسلم قال: خَيرُكُم مَن تَعَلَّمَ القُرأٰنَ وَعَلَّمَهُ

Dari Ustman Ra berkata, Nabi bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

وفي الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت، قال رسول الله صلی الله صلی الله عليه وسلم: الَّذِي يَقرَأُ القُرأنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقرَأُ القُرأٓنَ وَيَتَتَعتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ، لَهُ أَجرَانِ

Dari ‘Aisyah Ra berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, akan bersama malaikat yang mulia dan baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an namun masih terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka ia akan memperoleh dua pahala.”

وفي صحيح مسلم عن أبي أمامة رضي الله عنه، عن رسول الله قال: إقرَؤُا القُرأٓنَ فَإِنَّهُ يَأتِي يَومَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصحَابِهِ

Dari Abi Umamah berkata, Rasulullah bersabda, Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia datang di hari kiamat memberi syafaat.”

عن ابن عباس رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلی الله عليه وسلم : إِنَّ الَّذِي لَيسَ فِي جَوفِهِ شَيئٌ مِنَ القُرأٓنِ كَالبَيتِ الخَرِبِ، قال الترمذي: حديث حسن صحيح

Dari Ibnu Abbas Ra berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sedikit pun Al-Quran bagaikan rumah yang roboh.”

مختار التبيان في أٓداب حملة القرأٓٓن، ٨

Bagikan

Haruskah Lebaran Sama?

Indahnya Perbedaan

Minggu-minggu ini terjadi polemik dan silang pendapat yang cukup tajam di dunia maya menyikapi waktu lebaran 1444 H, apakah jatuh pada hari Jum’at atau Sabtu. Perbedaan ini sejatinya bukan sesuatu hal yang baru, tetapi dukung mendukung pada kelompok dan Ormas masing-masing tidak dapat dihindarkan.

Ceruk polarisasi tersebut semakin menajam manakala terdapat 60-an Negara merayakakan hari lebaran Idul Fitri pada Jum’at, 21 April 2023, tersisa 4 Negara Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat Indonesia (ORBITINDONESIA.COM), sementara pada sidang itsbat yang diselenggarakan Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 22 April 2023.

Arab Saudi dan Mesir adalah dua Negara yang menjadi kiblat dan menara ilmu umat Islam selama ini menetapkan lebaran Idul Fitri pada hari Jum’at mengikuti Negara lainnya. Keputusan tersebut seperti menjustifikasi dan membenarkan kelompok yang merayakan lebaran pada hari tersebut. Benarkah demikian?

Perbedaan Mathla’

Apabila hilal terlihat di suatu Negeri dan tidak terlihat di Negeri lainnya, maka dua Negeri tersebut dihukumi satu Negeri apabila wilayah teritorialnya berdekatan disebabkan satu matla’ (penampakan bulannya sama). Apabila mathla’nya berbeda, maka penetapan puasa Ramadhan atau Syawal berlaku bagi wilayah yang melihat hilal, dan tidak berlaku bagi yang tidak melihat hilal.

Penetapan Idul Fitri yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Mesir misalnya bukan suatu pembenaran dan tidak harus sama dengan Negeri lainnya yang berbeda matla’nya.

إمتاع النجيب، الشيخ هشام كامل، ١٦٨

والدليلُ ما روی كُرَيبٌ قالَ: استُهِلَّ عَلَيَّ رمضانُ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيتُ الهِلَالَ لَيلَةَ الجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمتُ المَدِينَةَ فِي أٓخِرِ الشَّهرِ، فَسَأَلَنِي عَبدُ اللهِ بنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنه، ثُمَّ ذَكَرَ الهِلَالَ فَقَالَ مَتَی رَأَيتُمُ الهِلَالَ؟ فَقُلتُ رَأَينَاهُ لَيلَةَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ أَنتَ رَأَيتَهُ؟ فَقُلتُ نَعَم وَرَأٓهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، فَقَالَ لَكِنَّا رَأَينَاهُ لَيلَةَ السَّبتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّی نُكمِلَ ثَلَاثِينَ أَو نَرَاهُ، فَقُلتُ أَوَلَا تَكتفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فَقَالَ لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عليهِ وسلَّم.. رواه مسلم وابو داود وغيرهما

Diriwayatkan oleh Kuraib, ia berkata, “Telah dimulai Ramadhan bagiku sementara aku berada di Syam, aku melihat bulan pada malam Jum’atnya, kemudian aku pergi ke Madinah pada akhir bulan, Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku dan berbicara hilal, ia berkata kapan kalian melihat hilal? Aku menjawab, kami melihatnya pada malam Jum’ at. Abdullah bin Abbas berkata, engkau benar melihatnya? Aku menjawab ia, begitu juga orang-orang, mereka berpuasa, dan Muawiyah berpuasa. Ia berkata, tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa menyempurnakan sampai 30 atau kami melihatnya. Aku berkata, tidakkah cukup apa yang telah dilihat Muawiyah begitu juga dengan puasanya? Abdullah bin Abbas menjawab, begitulah Rasulullah mengajarkan kami.” HR. Muslim dan Abu Daud dan lainnya.

Menyikapi Perbedaan

Riwayat Imam Muslim dan Abu Daud di atas menegaskan bahwa perbedaan penetapan puasa Ramadhan dan Syawal sudah terjadi 13 abad yang silam antara Ibnu Abbas di Madinah yang melihat hilal pada malam Sabtu dan Muawiyah di Syam (Damaskus, Syiria) ) yang melihat hilal pada malam Jum’atnya, di mana jaraknya hanya sekitar 15, 8 km saja, mengingat kudua wilayah tersebut berbeda matla’nya. Perbedaan antara kedua sahabat mulia Nabi tersebut masih dalam ruang lingkup ijtihad dan sama-sama berpegang pada perintah ajaran Agama dan saling menghargai satu sama lainnya.

Kalangan Syafiiyah berpendapat bahwa perbedaan permulaan puasa dan lebaran dihitung dari perbedaan mathla’ bulan di antara jarak yang jauh, di mana dekat jauhnya suatu wilayah dihitung sejauh perjalanan qashor.

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢، ٥٣٣

وفي رأي الشافعيةِ يختلفُ بدء الصومِ والعيدِ بِحسبِ اختلافِ مطالعِ القمرِ بين مسافاتٍ بعيدةٍ. ولا عبرةَ في الاصحِّ بما قاله بعضُ الشافعيةِ: من ملاحظة الفرق بين البلد القريبِ والبعيدِ بحسب مسافةِ القصر ٨٩ كم

Permasalahannya sidang itsbat yang ditetapkan Kemenag RI sifatnya tidak mengikat sebagaimana di Negeri lainnya ketika mufti Negara tersebut menetapkan maka menjadi keputusan tetap dan pasti. Jika ingin sebuah keputusan yang sama, maka Kementrian Agama perlu duduk bersama dengan Ormas-Ormas yang ada seputar kriteria penetapan . Begitu juga tentang kriteria hilal dengan ketinggian 3 derajat, elongasi 6.4 derajat yang disepakati dengan Menteri 4  Negeri tetangga di Asia Tenggara yang dalam hal ini Berunai, Indonesia, Singpura dan Malaysia. Bila keputusan Negara mengikat maka tidak terjadi lebaran jauh-jauh hari yang dirayakan oleh kelompok masyarakat Aboge, Probolinggo beberapa hari yang lalu, yang seharusnya bila menjadi keputusan tetap, pemerintah dapat melarangnya.

Namun demikian mari kita berbeda dengan indah, damai penuh keberkahan. Semoga kita semua tidak saling menghujat, mencaci maki dan merasa benar sendiri.

تقبل الله منكم ومنكم صالح الاعمال

كل عام وانتم بخير

SSMedia

 

Bagikan

Fidyah Puasa

Pembayaran Fidyah Puasa

 أمّا الفديةُ: فالكلامُ في وجوبها الوجوبُ، لقولهِ تعالی: وَعَلَی الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِديَةٌ طَعَامُ مِسكِينٍ. البقرة ١٨٤، والفدية…… مدٌّ من الطعامِ من غالبِ قُوتِ البلدِ عن كلِّ يومٍ عند الجمهورِ، بقدرِ ما فاتهُ من الأيامِ

Kewajiban fidyah berdasarkan firman Allah Swt, “Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya (membayar) fidyah (memberi) makan orang-orang miskin.” QS Al Baqarah: 184.

Adapun besarannya menurut Jumhur Ulama ialah 1 mud dari makanan pokok suatu Negara dari setiap harinya (keterangan sebelumnya: 675 gram/ 6,75 ons).

Sebab-Sebab Pembayaran Fidyah

1. الشيخ الكبير والعجوز

Lelaki atau perempuan tua renta, sekiranya dipaksakan berpuasa akan membahayakan dirinya (مشقة). Keduanya boleh berbuka dan memberi makan orang miskin, dengan membayar fidyah 1 mud setiap harinya.

2. المريض الذي لا يرجی برؤه

Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh wajib membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan karena tidak ada kewajiban puasa baginya (Jika ada harapan sembuh maka tidak harus membayar fidyah namun harus mengqada’nya).

3. الحامل والمرضع

Orang mengandung dan menyusui jika dihawatirkan membahayakan kedua anaknya, keduanya boleh berbuka, membayar fidyah dan mengqada’. Jika membahayakan terhadap diri keduanya maka boleh berbuka dan mengqada’ dan tidak harus membayar fidyah.

4. من فرط في قضاء رمضان فأخره حتی جاء رمضان أخر

Orng yang lalai dalam mengqada’ puasa Ramadhan, mengakhirkannya sampai datang bulan Ramadhan sesudahnya maka wajib membayar fidyah dan mengqada’.

مراجع: الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢، ص ٦٠٤-٦٠٦

Sementara orang yang meninggal dan punya tanggungan puasa bisa dilihat di postingan sebelumnya.

Foto: Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz, Selangor, Malaysia.

Bagikan

Berapa Besaran Zakat Fitrah Yang Harus Dikeluarkan?

Ukuran Zakat Fitrah

Menurut pendapat Syafi’iyah zakat fitrah diambil dari kebiasaan makanan pokok suatu Negara atau tempat yang berbeda satu sama lainnya. Adapun ukuran zakat fitrah yaitu 1 sha’. 

Adapun 1 sha’ ialah 4 mud.

Sementara 1 mud seukuran cidukan penuh kedua telapak tangan ukuran sedang.

1 mud sama dengan 675 gram atau 6,75 ons atau 0,6 kg.

Dengan demikian, jika zakat fitrah adalah 1 sha’ berarti 2.700 gram atau 2,7 kg. Demi kehati-hatian dan bentuk ikhtiat dalam prakteknya di lapangan, besaran zakat fitrah disempurnakan menjadi 3.0 kg.

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٣, ص ٦١

وذهب الشافعيةُ إلی أنّها تجبُ مِن غالبِ قُوتِ البلدِ أو المحلِّ، لإنّ ذلك يختلفُ باختلافِ النواحي…. ومقدارُها صاعٌ

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٢, ص ٥٩٩

المدُّ رطلٌ وثلثٌ بالرطلِ البغدادي، ويساوي ٦٧٥ غم

 

Foto: Blue Mosque, Masjid Biru Sultan Ahmed, Istanbul, Turki

Bagikan

Waktu Zakat Fitrah

Lima waktu Berzakat Fitrah

1. Waktu wajib: yaitu pada akhir bagian dari bulan Ramdhan dan awal dari bulan Syawal

2. Waktu Sunnah: sesudah sholat subuh hari lebaran dan sebelum sholat hari raya

3. Waktu Makruh: sesudah shalat hari raya sampai waktu terbenam tanpa adanya uzur, menyelisihi pendapat yang kuat dalam keharamannya

4. Waktu Haram: sesudah terbenamnya matahari dan sesudahnya

5. Waktu Boleh: yaitu dimulai dari awal bulan Ramadhan dan tidak boleh sebelumnya

قَالَ رسولُ الله صلَّی اللهُ عليه وَسلَّم: زَكَاةُ الفِطرِ طُهرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغوِ وَالرَّفَثِ وَطُعمَةٌ لِلمَسَاكِينِ، مَن أَدَّاهَا قَبلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقبُولَةٌ، وَمَن أَدَّاهَا بَعدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. رواه أبو داود وابن ماجه

Rasulullah bersabda, “Zakat fitrah membersihkan bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, merupakan makanan bagi orang miskin, barang siapa menunaikannya sebelum sholat ‘id maka itu merupakan zakat yang diterim, dan barang siapa menunaikannya sesudah sholat maka termasuk shadaqah biasa.” HR Abu Daud dan Ibnu Majah

(*)

Imta’un Najib, Syeich Hisyam Kamil, Hal 160

Foto: Masjid Shah Faisal, Islamabad, Pakistan

 

 

Bagikan