Tempat Tinggal Perempuan Yang Ditalak

Pertanyaan

Dalam suatu kasus, pasangan suami istri membangun mahligai rumah tangga dengan baik, dalam perjalanannya karena suatu hal keduanya harus mengakhiri hubungan dengan talak tiga (bain). Pertanyaannya, di mana perempuan tersebut melaksanakan iddah, apakah di rumah orang tua atau di tempat suami mengingat sudah tidak ada hubungan? (Samsuri & Hasin, Panaguan)

Jawaban

Tempat pelaksanaan iddah yaitu di tempat terjadinya talak atau di tempat suami, bukan di tempat orang tua sampai selesainya iddah, baik talak merupakan talak raj’i yang bisa dirujuk, cerai mati, atau talak bain yang tidak bisa kembali. Bahkan jika perempuan tersebut hamil maka ia berhak mendapatkan nafkah.

Namun demikian harus ada penutup antara tempat lelaki dengan perempuan yang ditalak bain dan haram melihat dan bersama keduanya karena statusnya adalah ajnabiyah.

Adapun kebiasaan yang terjadi di mana perempuan yang ditalak keluar dari rumah pasangan suami istri disebutkan dalam kitab Fiqhul Islami sebagai kebiasaan yang bertentangan dengan nash.

مغني المحتاج، ج ٣، ص ٤٩٠

في سُكنی المعتدَّةِ ومُلازمتِها مَسكنَ فِراقِها (تجبُ سُكنی لمعتدةِ طلاقٍ) حائلٍ او حاملٍ (ولو بائنٌ) أي ولو وهي بائنٌ ويَستَمِرُّ سُكناها إلی انقضاءِ عِدتِها لقوله تعالی (أَسْكِنُوهُنَّ مِن حَيثُ سَكَنتُمْ) الطلاق :٦ وقولِه تعالی (لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ) الطلاق :١ أي بيوتِ أزواجِهِنَّ

الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٧، ص ٦٢٢

ولَا عِبرةَ بِالعُرفِ القائمِ الآنَ مِن خُروجِ المُطَلَّقَةِ مِن بيتِ الزوجيةِ فهو عُرفٌ مُصادِمٌ للنصِّ القرأنِ السابقِ: لَا تُخرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ

التقريب، ٥٠

وَيَجِبُ لِلمُعتدةِ الرجعيةِ السُكنٰی والنفقةُ ويجبُ لِلبائنِ السكنٰی دُونَ النفقةِ إلا أن تكونَ حامِلا

فتح المعين، ١١٧

وتجبُ علی المُعتدَّةِ بالوفاةِ وبِطلاقٍ بائنٍ أو فسخٍ مُلازمةُ مَسكَنٍ كانت فيه عند الموتِ أو الفرقةِ

Hukum Sholat Jenazah Tanpa Wudhu

Pertanyaan

Bagaimana hukum melaksanakan shalat jenazah dalam keadaan hadats tanpa whudu? Apakah boleh? (Roni Masrin, Panaguan)

Jawaban

Tidak boleh karena shalat jenazah sama seperti shalat lainnya yang mengharuskan syarat menutupi aurat, suci, menghadap kiblat. Seperti yang diriwayatkan Imam Malik dari Nafi’ bahwa Abdullah Ibnu Umar berkata, “Hendaklah seorang lelaki tidak shalat jenazah kecuali dalam keadaan suci.”

Hanya ada segelintir kecil (qil) yang tidak mensyaratkan karena maksud shalat jenazah adalah do’a dan tidak disyaratkan suci dalam do’a seperti As Sya’bi dan Ibnu Jarir.

مغني المحتاج، جزء ١، ٤٦٨

وَيُشتَرَطُ فِي صَلَاةِ الجَنَازَةِ شُرُوطُ غَيرِهَا مِنَ الصَّلَاةِ كَسَتْرٍ وَطَهَارَةٍ وَاستِقبَالٍ لِتَسمِيَّتِها صَلَاةً فَهِيَ كَغَيرِهَا فِي الصَّلَوَاتِ

الشرقاوي علی التحرير، جزء ١، ٣٤٣

وَاعْلَم أَنَّهُ يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ عَلَی المَيِّتِ الطُّهْرُ والسَّتْرُ وغيرُهُمَا مِن شُرُوطِ بَقِيَّةِ الصَّلَوَاتِ مَا عَدَا الوَقْتَ، وَقِيلَ لَا يُشتَرَطُ لَهَا طُهْرٌ لِأَنَّ المَقصُودَ مِنهَا الدُّعَاءُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّعبِي وابنُ جَريرٍ

فِقه السنة، ٣٤٥

فَيُشتَرَطُ فِيهَا الشُّروطُ التِي تُفرَضُ في سَائِرِ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوبَةِ مِنَ الطَّهَارَةِ الحَقِيقَةِ والطَّهَارَةِ من الحَدَثِ الأكبَرِ وَ الأصغَرِ واستِقبَالِ القِبلَةِ وَسَترِ العَورَةِ، رَوَی مالكٌ عن نافعٍ أَنَّ عبدَ اللهِ ابنَ عمرَ كَانَ يَقُولُ: لَا يُصَلِّي الرَّجُلُ عَلَی الجَنَازَةِ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ

Hukum Perkawinan Anak Tiri Vs Anak Tiri

Pertanyaan

(A) seorang lelaki duda (mempunya anak lelaki) kawin dengan (B) perempuan janda (mempunyai anak perempuan). Bagaimana jika di suatu waktu anak tiri menikah dengan anak tiri? Apakah boleh? (Fauzan, Tattangoh)

Jawaban

Boleh karena tidak punya ikatan nasab, susuan dan pernikahan.  Baik orang tua sudah talak atau tidak.

 

الاقناع، ج ٢ ص: ١٣١

ولا تحرُم بنتُ زوجِ الامِ ولا أُمُّه

Tidak haram dinikahi

1. Anak perempuan suami ibu (saudara tiri)

2. Ibunya suami ibu (nenek tiri)

ولا بنتُ زوجِ البنتِ ولا أمُّه

3. Anak perempuannya suami anak perempuan (cucu tiri)

4. Ibunya suami anak perempuan (besan)

ولا أُمُّ زوجةِ الابِ ولا بنتُها

5. Ibunya istri babak (nenek tiri)

6. Anak perempuannya istri ayah (saudara tiri)

ولا أمُّ زوجةِ الابنِ ولا بنتُها

7. Ibunya istri anak lelaki (besan)

8. Anak perempuannya istri anak lelaki (cucu tiri)

ِّولا زوجةُ الرَّبيبِ ولا زوجةُ الرَاب

9. Istri anak tiri (menantu tiri)

10. Istri bapak tiri

مغني المحتاج، ج ٣ ص: ٢١٧

وعُلِمَ من كلامه عدم تحريم بنت زوج الأم او البنت او أمّه وعدم تحريم أم زوجة الاب او الإبن او بنتها او زوجة الربيب او الرابّ لخروجهن عن المذكورات

(*)

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Pertanyaan

Pendapat Imam Syafii ada pendapat yang lama (qaul qadim, Iraq) ada pendapat yang baru (qaul jadid, Mesir). Bagaimana jika pendapat yang lama dijadikan pedoman? Apakah ada pengecualian-pengecualian? (Ikhwan, Pamekasan)

Jawaban

Qaul qadim Imam Syafii sejatinya tidak bisa dijadikan rujukan dan pedoman hukum karena pendapat yang baru sesudahnya otomatis me-nasikh  atau merevisi pendapat sebelumnya. Walaupun dalam beberapa produk hukum, qaul qadim dianggap lebih kuat. Ada 18 permasalahan hukum di mana para ulama menegacu pada qaul qadim dan dianggap lebih unggul.

1. Tidak wajib menghindarkan najis dari air yang lebih  dua qallah

2. Tidak najisnya air yang mengalir kecuali airnya berubah rasa, bau, dan warna

3. Tidak batalnya wudhu dengan menyentuh mahram

4. Haram memakan kulit yang sudah disamak

5. Dianjurkan membaca tastwib (asshalatu khairun minan naum) pada adzan subuh

6. Waktu shalat maghrib sampai terbenamnya mega yang merah

7. Sunah menyegerakan shalat  isya’ di awal waktu

8. Tidak sunah membaca surah pada 2 rakaat terakhir

9. Sunah membaca aamin dengan keras bagi makmum pada shalat jahriyah

10. Sunah membuat garis (tongkat, sajadah, dll) sebagai penanda shalat di depannya

11. Boleh berniat makmum bagi orang yang shalat sendirian di tengah-tengah shalat

12. Dimakruhkan memotong kuku mayit

13. Tidak diharuskan haul (setahun) dalam harta rikaz (harta peninggalan jahiliyah)

14. Boleh menqqadha puasa dari hutang puasa keluarga yang meninggal dunia bagi walinya

15. Boleh mensyaratkan tahallul (memotong rambut) dari ihram orang yang sakit

16. Boleh memaksa syarik (kongsi) untuk membangun barang yang rusak

17 Mahar yang rusak atau hilang harus diganti

18. Wajib had  disebabkan menyetubuhi budak perempuan yang sedang ihram

بغية المسترشدين، ص:٨

وَأما السَّائلُ التي عَدُّوها وجَعَلوها مِما يُفتي به علی القَديمِ فسبَبُها  أنَّ جماعةً مِن المُجتَهدين في مَذهَبِه لاحَ لهم في بعضِ السائِلِ أن القديمَ أظهرُ دليلاً فأفتُوا به، غيرَ ناسِبي ذٰلِك إلی الشافعيِّ كا لقولِ المُخرَج، فمن بَلَغَ رُتبةَ التَرجيحِ ولاحَ له الدليلُ أفتَی به وإلا فَلَا وَجهَ لِعلمه، وَفَتواهُ أنَّ المَسائلَ التي عَدُّوهاأكثرَها فيه قولٌ جديدٌ، فتَكونُ الفَتوٰی به وهي ثمانيةَ عشرَ مسألةً،

١ٜ عدمُ وُجوبِ التباعُد عن النجاسةِ في الماءِ الكثيرِ بقَدرِ قُلتين

٢. وعدمُ تنجُّس الماءِ الجاري إلا بالتغيُّر

٣. وعدمُ النقضِ بِلَمسِ المَحرَم

٤. وتَحريمُ أَكلِ الجِلدِ المَدبوغِ

٥. والتَثويبُ في أٰذانِ الصُبحِ

 ٦. وَامتِدادُ وقتِ المغربِ الی مَغيبِ الشَّفَقِ

٧. وَاستِحبابُ تَعجيلِ العِشاءِ

٨. وعدمُ نَدبِ قِراءةِ السُّورَة في الأخيرتَين

٩. والجهرُ بالتأمينِ للمأمومِ في الجَهرية

١٠ ونَدبُ الخَطِّ عِند عدمِ الشاخِصِ

١١ وجوازُ اقتِداءِ المُنفرِدِ في أثناءِ صلاتِه

١٢ وكَراهَةُ تقليمِ أظافِرِ الميّتِ

١٣ وعدمُ إعتِبارِ الحَولِ في الرّكازِ

١٤ وصيامُ الولِيِّ عن المَيِّتِ الذي عليه صَومٌ

١٥ وجوازُ اشتِراطِ التَحَلُّلِ بالمَرَضِ

١٦ وإجبَارُ الشَّريكِ علی العِمارةِ

١٧ وجعلُ الصَّداقِ في يَدِ الزوجِ مَضمونا

١٨ وَوُجوبِ الحَدِّ بِوَطءِ المَملوكَةِ المُحرِمِ

Tanggungan Puasa Orang Yang meninggal Dunia

Pertanyaan

Bagaimana hukum orang yang meninggal dunia dan punya tanggungan puasa Ramadhan sebelum diqada? (P Sujak Pamekasan)

Jawaban

1. Jika orang yang meninggal dunia dan punya tanggungan puasa ramadhan tidak puasa disebabkan ada uzur semisal sakit dan belum sempat mengqada karena sakitnya berlanjut sampai meninggal maka tidak perlu membayar fidyah (makanan) dan tidak berdosa.

2. Jika tidak puasanya tanpa ada uzur dan meninggal sebelum mengqada, atau ada uzur tapi tidak sempat mengqada padahal memungkinkan baginya untuk qada, maka wajib bagi walinya (ahli waris) menggantinya dengan memberi makan dari harta peninggalannya, setiap satu hari 1 mud (679,79 gram). Hal tersebut menurut qaul jadid, adapun menurut qaul qadim boleh bagi walinya menggantinya dengan membayar fidyah atau menggantikannya dengan berpuasa. Dalam hal ini menurut  Imam Nawawi qaul qadim yang lebih azhar.

نهاية الزين، ص ١٩٨

ومن مات وعليه صيامُ رمضانَ أو نذرٍ أو كفارةٍ قبل إمكانِ فعلِه بأن استمرَّ مرضُه الذي لا يُرجی بُرُؤه أو سفُره المباحُ إلی موته فلا تُدارِك للفائت ولا بالقضاء ولا إثمَ عليه لعدَمِ تقصيرِه، فإن تعَدَّی بالإفطارِ ثم مَاتَ قبل التمكُّن وبعدَه أو أفطَرَ بعذر ومات بعد التمكن أطعَمَ عنه وليُّه من تركته لكل يوم فانه مد طعام من غالب قوت البلد

كفاية الأخيار، جزء ١، ص ٢١٢

من فاته صيامٌ من رمضان ومات نُظِرَ إن مات قبل تمكُّنِه من القضاء بأن مات وعُذرُه قائمٌ كاستِمرارِ المرضِ فلا قضاءَ ولا فديةَ ولا إثمَ عليه، وإن مات بعد التمكنِ وجب تدارُكُ مافاتَه، وفي كيفية التدارك قولان: الجديدُ ونَصَّ عليه الشافعيُّ في أكثر كُتُبِه القديمةِ أنه يُخرَخُ من تركته لكل يوم مد طعام…. قال الشافعيُّ في القديم يَجِبُ أن يُصام عنه وأنه لا يتعين الإطعامُ بل يجوز للولي أن يصومَ عنه بل ُيُستَحَبُّ له ذلك كما نَقَله النوويُّ في شرح مسلمٍ قال النوويُّ القديم هنا أظهرُ

Usia Pernikahan

Pertanyaan

Bagaimana hukum pernikahan dini (belum baligh) dalam perspektif agama? Dan sejauh mana pandangan para ulama tentang usia baligh? (AW, Panaguan)

Jawaban

Baligh bukan salah satu syarat sahnya perkawinan sejauh dijalankan dengan ketentuan yang berlaku. Pernikahan dini memiliki aturan yang sangat selektif dan tidak sembarangan, yaitu harus dilakukan oleh wali mujbir dalam hal ini ayah dan kakek (tidak boleh yang lainnya seperti kerabat dekat), juga dilakukan dengan tujuan kemaslahatan di dalamnya.

Usia baligh dalam pernikahan menunjukkan sempurnanya akal, kekuatan nalar dan kesiapan dorongan mental. Ulama berbeda pendapat tentang usia baligh di luar tanda-tanda lainnya semisal keluar mani dan haid.  Menurut pendapat Syafiiyah dan Hanabilah usia baligh adalah 15 tahun. Adapun menurut Malikiyah, usia baligh sempurnanya umur 18 tahun dan memasuki umur 19 tahun. Berbeda dengan Abu Hanifah yang membedakan umur baligh laki-laki 18 tahun dan perempuan 17 tahun.

الفقه الاسلامي، جزء ٧، ص: ١٨٥ ١٨٦

وَقَالَ الشَّافِعِيةُ لَيسَ لِغَيرِ الاَبِ وَالجَدِّ تَزويجُ الصغيرِ والصغيرةِ، لخبر الدار قطني: الثَيِّبُ احقُّ بنفسِها، والبِكرُ يُزَوِّجُها ابُوها…… وَكَذٰلِكَ اِشتَرَطَ الشَّافِعِيةُ فَي تَزوُيجِ الصغِيرِ وُجُودَ المَصلَحَةِ

الشرقاوي، جزء ٢، ٢٢٤

وَأَنَّ غَيرَ الابِ لايُزَوِّجُ صغيرةً بحالٍ لانه إنما يُزَوِّجُ بالإذنِ ولا إذنَ للصغيرةِ…… أوالجد عِندَ فقدِ الابِ

الفقه علی المذاهب الاربعة، جزء ٢، ٢٧١

وَقَالَ أبُو حنيفةَ إنما يَبلُغانِ بالسِّنِّ إذا اَتَمَّ الذَّكَرُ ثَمَانِيَ عَشرةَ سنةً، والاُنثیَ سبعَ عشرةَ سنةً…….. المالكية: وَهُوَ أَن يَتِمَّ ثمانيَ عشرةَ سنةً……الشافعية: يُعرَفُ بلوغُ الذكرِ والانثی بتمامِ خمسَ عشرةَ سنةً بالتحديدِ…… الحنابلة: بُلوغُ سنِّهِماخمسَ عشرةَ سنة كاملة

(*)

Khiar Aib Dalam Nikah Apakah Sama Dengan Jual Beli?

Pertanyaan:

Dalam jual beli, khiar (memilih antara membatalkan dan meneruskan) transaksi berlaku apabila terdapat cacat barang saat berlangsungnya akad dan barang belum diserah tangankan, apabila barang sudah diserahkan atau aib sudah diketahui sebelumnya maka tidak berlaku khiar. Bagaimana dengan aib pernikahan semisal cacat gila,  lepra, kusta, alat kelamin terpotong, dsb. apakah sama? (Ahmad Y, Pangbatok)

Jawabaan:

Ada yang sama ada yang tidak. Dalam pernikahan, khiar aib tidak berlaku apabila salah satu pasangan sudah mengetahui cacat sebelumnya karena dianggap sama-sama ridha seperti dalam jual beli, jika cacat terjadi sesudah akad baik sebelum atau sesudah persetubuhan maka hak khiar berlaku bagi salah satu suami istri.

أسنی المطالب جزء، ٣ ص: ١٧٦

لو نكح أحدهما الآخرَ عالمًا بالغيب القائم بالاخر غيرِ العُنَّةِ فلا خيارَ له كما في البيع

الفقه الإسلامي، جزء ٧ ص: ٤٩٩

وأطلق الشافعية والحنابلة القول بجواز التفريق بالعيب الحادث بعد الزواج

حاشية البجيرمي، جزء ٣ ص: ٤٣١

ولو حدث بالزواج بعد العقد عيبٌ كأن جُبَّ ذكرُه ولو بعد الدخول ولو بفعلها ثبت لها الخيارُ

Bolehkah Zakat Memakai Nominal Uang?

Deskripsi

Di akhir-akhir ini praktek di tengah-tengah masyarakat dalam membayar zakat fitrah banyak memakai nominal uang. Bolehkan hal tersebut? (AW, Pangbatok)

Menurut Imam Syafi’i zakat fitrah itu harus merupakan qutil balad atau makanan pokok suatu negara atau tempat semisal beras dan tidak boleh memakai qimah atau nominal uang menurut pendapat jumhur. Adapun zakat fitrah yang dikeluarkan adalah 1 sha’ (4 mud) atau setara 2,5 atau 2,7 kg beras. Dengan demikian jika yang berzakat memakai uang maka harus disediakan beras, dsb. dengan akad jual beli.

الفقه الاسلامي، جزء ٣، ص: ٦١ ٦٢

وذهب الشافعي إلی أنها تجب من غالب قوة البلد او المحل، لأن ذلك يختلف باختلاف النواحي، والمعتبر في غالب القوة غالب قوة السنة، ويجزئ الاعلی عن الأدنی لا العكس، وذلك بزيادة الاقتيات في الاصح لا بالقيمة…… ومقدارها صاع….. لا يجزئ عند الجمهور إخراج القيمة عن هذه الاصناف، فمن أعطی القيمة لم تجزئه

Menurut imam Abu Hanifah boleh pakai dirham, dinar, uang karena tujuan dari zakat adalah terpenuhnya pengentasan kefakiran. Hanya saja kewajiban zakat fitrah hanya berlaku untuk 4 hal: hinthoh qandum, syair jelai, kurma, kismis. Dimana ukuran zakatnya setengah sha’ qandum, 1 sha’ untuk kurma, kismis dan jelai. Adapun 1 sha’ setara 3800 gr atau 3,8 kg. Dengan demikian zakat fitrah disamakan dengan harga 1 sha’ kurma atau harga setengah sha’ gandum. Jika 1 sha’ gandum harganya 120.000 maka zakat untuk setengahnya adalah 60.000,-. Jika kurma super harganya 1 sha” nya sekian, maka itula zakatnya, tidak boleh memakai 1 sha’ beras.

الفقه الاسلامي، جزء ٣، ص: ٦٠

قال الحنفية تجب زكاة الفطر من اربعة أشياء: الحنطة والشعير والتمر والزبيب، وقدرها نصف صاع من حنطة أو صاع من شعير أو تمر أو زبيب، والصاع عند أبو حنيفة ومحمد ثمانية أرطال بالعراقي، والرطل العراقي مئة وثلاثون درهما، ويساوي ٣٨٠٠ غرام

دفع القيمة عندهم: يجوز عند الحنفية أن يعطي عن جميع ذلك القيمة دراهم أو دنانير أوفلوسا أو عروضا أو ما شاء لأن الواجب في الحقيقة إغناء الفقير

Apa kedudukan lafadz Urida?

Pertanyaan

Lafadz urida (أُرِيدَ) itu fiil apa, mabni apa, waqi’nya apa? (Wawan, Pangbatok)

Jawaban

Lafadz أُرِيدَ merupakan fiil ماضي

Mabni majhul  أَرَادَ / أُرِيدَ

Waqi’ مفرد مذكر غائب

Lafadz di atas seperti tertera dalam firman Allah surah Al-Jin, ayat 10:

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الاَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُم رَشَدًا

Syech Mustofa Al Ghalayaini menyebutkan cara membuat fiil madi mabni majhul apabila sebelum akhir kata ada huruf alif (selain sudasi) dengan cara mengganti alifnya dengan ya’. Contoh:

بَاعَ ـ بِيعَ

قَالَ ـ قِيلَ

اِبْتَاعَ ـ اِبْتِيعَ

Apabila terdiri dari sudasi atau enam huruf, maka alifnya diganti ya’, hamzah dan huruf nomer tiga diharkati dhommah. Contoh:

استتابَ ـ أُستُتيبَ

استماح ـ أُستُميحَ

Referensi:

جامع الدروس العربية، ص: ٣٥-٣٦

Hukum Memelihara Burung

 

Deskripsi

Kalau kita perhatikan kebanyakan orang yang memelihara burung disebabkan faktor kesenangannya pada suara merdu, keindahan fisik dan kelincahan gerak-geriknya. Di sisi lain burung peliharaan tidak bisa leluasa seperti di alam bebas.

Pertanyaannya:

1. Bagaimana hukum memelihara burung?

2. Bagaimana jika sewaktu-waktu burung dilepas dan merusak biji-bijian apa harus diganti?

(Dhoif, Pamekasan)

Jawaban

Terimakasih. Pertanyaan ini sebenarnya sudah menjadi perhatian ulama’ ratusan tahun dahulu.

1. Menurut mereka memelihara burung tidak ada bedanya dengan memelihara binatang ternak yang diikat di kandang dengan syarat segala kebutuhan hidup dipenuhi.

2. Mengganti dari akibat yang ditimbulkan menurut yang paling kuat.

مغني المحتاج، جزء ٤، ص: ٢٣٩

سُئل القَفَّال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك، فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكها بما تحتاج إليه، لأنها كالبهيمة تربط

حاشية البجيرمي، جزء ٤، ص: ٣٣١

وإتلاف حيوان عاد) دخل فيه الطير والنحل. فقولهم لاضمان بإرسال الطير والنحل فمحمول علی غير العادي الذي عهد إتلافه. وقال ق ل علی الجلال: إنه لا ضمان مطلقا كما قاله زي و خ ط وخالفهما شيخنا م ر

فقه السنة، ص: ٨١٠

ويری البعض الآخر أن فيها الضمان، فمن أطلقها فأتلفت شيئا ضمنه. وكذلك إن كان له طير جارح، كالصقر والبازي، فأفسد طيور الناس وحيواناتهم ضمن. وهذا الرأ ي هو الصحيح