DI ANTARA ANJURAN SAYYID BAKRI MUHAMAD SYATHA

 

Seseorang yang meniti jalan rumah akhirat hendaklah mengisi kebutuhan spritualnya dengan bersungguh-sungguh agar ia sampai pada apa yang diharapkan, selamat dari godaan nafsu dan syetan, terlindungi dari rasa lemah dan malas. Sayyid Bakri Muhamad Syatha berkata:

“Peringatan: hendaklah bagi seseorang menekuni dzikir-dzikir yang datang (warid) dari paling baiknya makhluk yang dianjurkan sesudah shalat maktubah dan lainnya, yaitu dari Rasulullah Saw. Maka barang siapa yang ingin mengetahui hal tersebut hendaklah menetapi kitab: Maslakul Qariib Likulli Saalikin Muniib, karya seorang yang alim, pandai dan mahir, yang mendalami dua ilmu bathin dan dzahir, pimpinan kita: Al Habib Thohir Bin Husen Bin Thohir Baalawi, sesungguhnya kitab tersebut merupakan kitab yang memadukan dzikir-dzikir yang berharga, do’a-do’a yang agung, wirid-wirid yang menjadikan hati pembacanya bercahaya, berjalan pada titian yang benar.”

إعانة الطالبين، السيد البكري ابن السيد محمد شطا، الجزء الثاني: ٩٣

تنبيهٌ: ينبغي للعاقلِ أن يواظبَ علی الأذكارِ النبويةِ الواردةِ عن خيرِ البريةِ المشروعةِ بعد المكتوبةِ وغيرِها من جميعِ الأحوالِ فإنّ من أفضلِ حالِ العبدِ حالَ ذكرِهِ ربَّ العالمينَ واستغالِه بالأذكارِ الواردةِ عن رسولِ اللهِ صلّی اللهُ عليه وسلَّمَ سيدِ المرسلينَ فمن أرادَ الإطلاعَ علی ذلك فعليه “بالمسلكِ القريبِ لكلِّ سالكٍ منيبٍ” تأليفُ العالمِ النحريرِ الجامعِ بين علمي الباطنِ والظاهرِ سيدِنا الحبيب طاهر بن حسين بن طاهر فإنهُ كتابٌ حَوَی من نفائسِ الأذكارِ وجلائلِ الأدعية والأورادِ ما يُشرقُ به قلبَ القارئِ ويسلُكُ به سبيلَ الرشادِ

Sayyid Bakri Bin Sayyid Muhamad Syatha adalah pengarang kitab quadrilogi (4 jilid) ‘Ianatut Tholibin sebagai penjabar (hasyiah) dari kitab Fathul Mu’in yang paling lengkap, tuntas dan terkodifikasi dengan sempurna. Beliau hidup pada kisaran tahun 1226-1310 H, ulama terpandang yang menulis banyak kitab, pengajar di Masjidil Haram, Mekkah.

KH Nawawi Abdul  Jalil, piut atau putra dari cicit Sayyid Bakri.

Sayyid Bakri merupakan maha guru dari ulama Nusantara, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Ormas terbesar dunia, NU), KH. Achmad Dachlan (Pendiri Ormas terkaya dunia, Muhammadiyah), KH. Achmad Khatib Al-Minangkabawi (Imam Besar Masjidil Haram) dan ulama Nusantara lainnya. Beliau juga merupakan guru dari Sayyid Abbas Bin Abdul Aziz Al-Maliki, yang kelak keturunannya menjadi guru dari ulama Nusantara juga.

Sayyid Alawi Bin Abbas Bin Alawi (sorban putih), cicit dari Sayyid Abbas Bin Abdul Aziz.

Di dalam kitab ‘Ianatut Thalibun, Sayyid Bakri tertarik mengutip (istifadah) dari para ulama dari kalangan saadah Baalawi yang menunjukkan mata rantai keilmuann, kekaguman, kecintaan dan bentuk penghormatan akan kemuliaan ilmu dan kedudukannya.

Kitab yang direkomendasikan Sayyid Bakri.

Pertanyaan menukik yang perlu dikemukakan kemudian, kepada siapakah mata rantai keilmuan para pengusung kelompok “Imadiyah” yang menafikan saadah Baalawi selain KH. Imadudiin Ustman Al-Bantani, Gus Fuad Plered, Tenku Qori, dangan guru spritualnya Mama Iyus Sugirman (Mama Ghufron Al-Bantani) yang konon fasih berbahasa Suryani dan memahami bahasa semut? Semoga kita semua mendapatkan hidayahnya.

sumbersari.net

 

Bagikan

Kemuliaan Diri Seseorang

Tiga Tingkatan Kemuliaan

Al-Imam (Al-Haramain Al-Juwaini) dan Al-Ghazali berkata:

Kemulian jiwa seseorang dilihat dari tiga arah: 1. Jiwa yang bersambung dengan nasab Rasulullah Saw, maka kemuliaannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun;

2. Jiwa yang berhubungan dengan para ulama sebagai pewaris Nabi, di mana Allah Swt menguatkan kelestarian agama Muhammadiyah;

3. Jiwa yang berhubungan dengan orang-orang shaleh dan orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman, “Dan ayah dari kedua anak tersebut adalah seorang yang shaleh.”

Kedua Imam tersebut berkata, “Tidak ada kemuliaan diri seseorang yang dikaitkat dengan orang-orang yang diagungkan dalam urusan dunia dan penguasa yang dzalim, meskipun banyak orang-orang yang membanggakannya.”

ترشيخ المستفيدين، السيد علوي إبن السيد أحمد السقاف: ٣١٧-٣١٨

فائدة: قالَ الإمامُ والغزاليُّ شرفُ النفسِ من ثلاثِ جهات، إحداها الإنتماءُ إلی شجرةِ رسولِ الله فلا يعادلُه شيئٌ، الثانيةُ الإنتماءُ إلی العلماءِ فإنهم ورثةُ الأنبياءِ صلواتُ اللهِ وسلامهُ أجمعين وبهم ربطَ اللهُ تعالی حفظَ الملةِ المحمديةِ، والثالثةُ الإنتماءُ إلی اهلِ الصلاحِ المشهورِ والتقوی، قالَ اللهُ تعالی وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا، وَلا عبرةَ بالإنتسابِ إلی عُظماءِ الدنيا والظلمةِ المستولين علی الرقابِ وإن تفاخرَ الناسُ بهم

Kitab Tarsyihul Mustafidin merupakan kitab legendaris yang sering dijadikan referensi (maraji’) dalam kajian bahtsul masail dan literatur hukum dalam pembahasan masalah hukum waqiiyah di tengah-tengah umat.

Kitab yang menjadi penjelas (hasyiah) dari kitab Fathul Mu’in ini menjadikan kitab karya Syech Zainuddin Al Malibari tersebut terurai dan tersampaikan dengan baik, yang sulit menjadi mudah, yang global menjadi sangat gamblang dengan diperkaya beberapa kutipan-kutipan penting.

Seperti diketahui bahwa kitab Fathul Mu’in menjadi perhatian para ulama, diperjelas dan dipertajam pembahasannya dalam (hasyiah) oleh:

1. Sayiyd Bakri Bin Sayyid Muhamad Syatha dalam kitab I’anatut Tholibin (akan dibahas di lain kesempatan).

2. Sayyid Alawi Bin Sayyid Ahmad Assegaf dalam kitab Tarsyihul Mustafidin.

Di antara karya dari beberapa karya kitabnya yang terus dicetak dan diperbanyak.

Sayyid Alawi Bin Sayyid Ahmad Assegaf Baalawi pengarang dari kitab Tarsyihul Mustafidin ini hidup di dua abad berbeda, yaitu pada abad 13 dan 14 hijriyah, tepatnya pada kurun waktu 1255-1335 H. Beliau merupakan seorang yang alim dan terkemuka di zamannya, faqih dalam madzhab Syafii, muallif kitab dari beberapa disiplin ilmu, di antaranya fiqh, faraid, tarikh, falak, nasab, dll.

sumbersari.net

Bagikan

Cara Menyelesaikan Suatu Urusan

 

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan sempurna dalam suatu hal:

1. Giat dan bersungguh-sungguh

2. Tidak malas dan lemah

3. Tidak menunda-nunda

Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata, “Tidaklah seseorang dapat menempuh jarak perjalanan dzahir dan batin kecuali dengan cita-cita dan kesungguhan yang tinggi. Barang siapa yang menetapi rasa malas, lemah dan melindungi diri dengan menunda-nunda maka ia sulit untuk menyelesaikan suatu hal, kecil kemungkinannya untuk mendapatkan apa yang diharapkan kecuali Allah berkehendak.”

المنهج السوي شرح أصول طريقة السادة أل باعلوي للحبيب زين بن إبراهيم بن سميط: ٥٧

قالَ سيدُّنا الإمامُ الناصحُ للأنامِ عبدُ اللهِ بنُ عَلَوي الحدّادُ نفعَ اللهُ به: وما يقطعُ الإنسانُ مسافةَ الظاهرِ والباطنِ إلا بالهمَمِ العاليةِ الجِدّيةِ، ومن تَوطَّن الكسَلَ والعَجزَ وتدرَّعَ بالتسويفِ فقلَّ أن يَنفُذَ في أمرٍ، وقلَّ أن يحصُلَ علی مطلوبٍ إلا ما شاء اللهُ

Habib Umar putra Habib Zain Bin Ibrahim Bin Sumith, Madinah

sumbersari.net

Bagikan

Pembagian Permata Dibagi Atau Dijual?

Pembagian Permata Akan Menghilangkan Nilai Harga

Jika ada orang yang bersekutu dalam pengadaan permata atau pakaian bernilai tinggi maka membagi (memecah, dsb) akan menghilagkan kemanfaatannya, seorang hakim harus melarang orang yang bersekutu untuk membagi (menjadikan bagian) dari barang tersebut karena hilangnya kemanfaatan dan adanya kemudharatan.

Jalan keluarnya bagi orang yang bersekutu hendaknya menjual permata atau pakaian berharga tersebut, membagi perolehan uang yang dihitung dari porsi setiap orang yang bersekutu, penyewaan, dan sebagainya karena melihat adanya maslahat, menjauhi kemudharatan dan kesia-siaan.

إمتاع النجيب:٤٤١ 

مسألةٌ: إذا كانت الشركةُ في جوهرةٍ أو ثوبٍ نفيسٍ فالقسمةُ تبطلُ نفعَهُ، فيمنعُ الحاكمُ الشركاءَ من القسمةِ لفواتِ المنفعةِ ولوجودِ الضررِ، فعلی الشركاءِ بيعُ الجوهرةِ أو الثوبِ وقسمةُ المالِ بحسبِ حصّةِ كل شريكٍ أو التأجير أو غير ذلك من وجوهِ المصلحة والبعدِ عن الضرر وإضاعةِ المال

*sumbersari.net

Bagikan

Integritas Seorang Hakim

 

Hakim Tidak Boleh Memutus Perkara Pribadi

Seorang hakim tidak boleh memutus hukum atau menangani perkara pribadi (keluarga) di mana ia dalam kasus tersebut termasuk orang yang sedang berseteru. Ia juga tidak boleh menangani perkara yang berhubungan dengan temannya (kelompok), atau hamba sahayanya.

Jalan keluar dari perkara di atas, ia memasrahkan perselisihan tersebut untuk disidangkan kepada hakim lainnya (sebagai bentuk independensi sikap seorang hakim).

.

إمتاع النجيب: ٤٣٧

لا يحكمُ القاضي لنفسِه في قضيّةٍ هو فيها خصم ولا لشريكِه أو عبيدِه بل تعرضُ الخُصومةُ علی قاضٍ أٓخر

*sumbersari.net

Bagikan

Kode Etik Seorang Hakim

Larangan Untuk Hadir Atau Menjamu

Seorang hakim tidak boleh hadir pada undangan walimah salah satu orang yang sedang berperkara atau hadir ke pesta keduanya (di luar persidangan). Ia juga tidak boleh menjamu/ melayani tamu salah satu yang berseteru, tanpa yang lainnya. (Jika menghadiri undangan walimah saja tidak boleh, maka kedatangan hakim dengan disengaja untuk bertemu atau berinteraksi dengan orang yang sedang berperkara merupakan pelanggaran kode etik).

– Diperbolehkan bagi hakim untuk menghadiri jenazah salah satu yang sedang berseteru, hal demikian sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt.

إمتاع النجيب: ٤٣٦

فرعٌ: لا يحضرُ القاضي وليمةَ أحدِ المتخاصمينِ حالةَ الخصومةِ أو وليمتهِما، ولا يُضيِّفُ أحدَ الخصمينِ دونَ الأخرِ

ـ يجوزُ للقاضي حضورُ جنازةِ أحدِ الخصومِ لأن ذلك قربةٌ لله تعالی

*sumbersari.net

 

Bagikan

Penerimaan Hadiah Bagi Hakim & Prioritas Persidangan

Hukum Menerima Hadiah

1. Haram bagi seorang hakim menerima hadiah dari ahli daerahnya dan tempat bekerjanya;

2. Haram menerima pemberiah hadiah dari selain tempat bekerjanya apabila di sana ada lawan seteru;

3. Boleh menerima hadiah dari selain tempat bekerjanya dan di sana tidak ada lawan seteru.

-Larangan seorang hakim mengambil uang dari orang yang berselisih agar ia bisa memutus hukum perkara dengan benar dan adil.

Prioritas Persidangan

Prioritas jalannya persidangan mendahulukan orang yang lebih awal datang (mendaftar) dari yang akhir (jika tidak diketahui siapa yang lebih awal maka diadakan undian), mendahulukan orang yang musafir dari pada orang yang mukim, perempuan dari pada lelaki.

إمتاع النجيب: ٤٣٦

حكمُ قبولِ القاضي للهديةِ

ـ يحرمُ قبولُ القاضي من أهلِ دائرتهِ ومحلِّ عملِهِ

ـ ويحرمُ قبولِ الهديةِ من غيرِ محل عملهِ إن كان له خصومةٌ

ـ إن أُهدي إليه من غير محل عملهِ وليس له خصومةٌ جاز قبولُ الهديةِ

ـ لا يجوزُ للقاضي أن يإخذَ مالًا من الخصومِ ليحكمَ بالحقِّ

فرع: يقدم القاضي الاسبقَ في الحضورِ علی المتأخرِ فإن جهِل أيهما اسبق أقرعَ بينهما (أجری القُرعة) إلا المسافرَ فيقدمُ علی الحاضرِ وكذلك النساءُ

*sumbersari.net

Bagikan

Bentuk & Hukum Nadzar

Bentuk Nadzar Ada Dua

1. Nadzar lajjaj, yaitu nadzar yang terjadi waktu berbantah-bantahan atau marah (bukan berniat ibadah). Contoh: jika aku berbicara dengan fulan maka wajib bagiku puasa sebulan, maka jika ia benar-benar berbicara maka harus berpuasa sebulan, jika tidak ia harus membayar kafarat.

Nadzar lajjaj seperti: 1.Mencegah  dirinya untuk  tidak melaksanakan sesuatu; 2. Mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu; 3. Meyakinkan diri untuk melakukan atau menjauhi suatu hal. Contoh: jika perkara ini tidak sesuai dengan apa yang kukatakan, maka wajib bagiku berpuasa sebulan.

2. Nadzar Tabarrur, di mana orang yang bernadzar mengharapkan kebaikan atau berniat ibadah.

-Jika dalam bernadzar menghubungkan dengan sesuatu maka dinamakan mujaazaat atau mukaafaat. Contoh: jika sakitku sembuh maka aku akan berpuasa, bershalat dan bershadaqah, maka apabila sembuh ia harus melaksanakan nadzarnya (tidak bisa bebas dengan membayar kafarat). 

– Jika dalam nadzar tidak dihubungkan dengan sesuatu maka dinamakan tabarrur mutlaq. Contoh: wajib bagiku puasa sebulan, membangun masjid atau membaca Al-Qur’an. Di dalam melaksanakan nadzar ini, kewajiban menunaikannya menunggu sampai waktunya mampu (diperluas) dan tidak bisa bebas dengan membayar kafarat sumpah.

Hukum Nadzar

Adapun hukum dalam nadzar tabarrur harus ditunaikan nadzarnya, sementara dalam nadzar lajjaj ia diberi dua opsi pilihan antara menunaikan nadzar dan membayar kafarat sumpah.

إمتاع النجيب: ٤٣٨-٤٢٩

أنواعُ النذرِ

النذرُ الاولُ: نذرُ اللَّجَّاجِ وهو ما يقعُ حالَ الخُصومةِ، ومثالُه إن كلمتُ فلانًا فللّه عليَّ صيامُ شهرٍ، فإن لم يلتزم الناذرُ بما قالَه فعليه الكفارةُ

ـ يتعلق بنذرِ اللجاج المنعُ من فعلِ شيئٍ، او الحَثُّ علی فعلِه، او التحقيقُ من فعلِ الشيئِ او تركِه كقولِه: إن لم يكن الأمرُ كما قلتُ فللّه عليَّ صومُ شهرٍ

النوعُ الثاني: نذرُ تبرُّرٍ لأن الناذرَ طلب به البرَّ والتقربَ إلی الله تعالی

ـ وهو إما ان يعلقَ علی شيئٍ فيُسمی: المُجازاةَ او المكافأةَ كأن يقولَ إن شَفی اللهُ مريضي فللّه عليّ أن أصومَ أو أصليَ أو أتصدقَ. فإذا حدثَ ما أراد فعليه الوفاءُ بنذرِه ….. وإما ألا يعلقه علی شيئٍ (مطلق) كان يقولَ للهِ تعالی عليّ صومُ شهرٍ، أو بناءُ مسجدٍ أو قراءةُ قرأنٍ

ـ نذرُ التبررِ واجبٌ موسَّعٌ علی الناذرِ ولا يتحللُ منه بكفارةِ يمين

حكمُ النذرِ واجبُ الوفاءِ في نذرِ التبررِ، وفي نذرِ اللجاجِ مخيرٌ بين الوفاءِ ِبما التزمه أو كفارةِ اليمينِ

*sumbersari.net

Bagikan

Macam-macam Sumpah

 

Tiga Macam Sumpah

1. Sumpah sia-sia (laghwi), yaitu sumpah yang tanpa disengaja (tidak berniat bersumpah) atau lupa dan salah. Sumpah semacam ini tidak harus membayar denda kafarat.

Contoh: Demi Allah kau harus mengaji biar tidak menyesal, Demi Allah dia namanya Ahmad, ternyata yang benar namanya Muhamad, sumpah seperti ini sia-sia dan tidak wajib membayar kafarat.

2. Sumpah yang disengaja (ma’qud), yaitu bersumpah untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Orang yang bersumpah dalam hal ini harus membayar kafarat.

Contoh: Demi Allah besok aku akan bershadaqah sebanyak sejuta terhadap sanak keluarga, Demi Allah aku tidak akan memberikanmu uang.

3. Sumpah yang menjerumuskan (ghamus), yaitu sumpah dusta. Sumpah ini dinamakan ghamus karena menjerumuskan pelakunya 70 tahun ke dalam neraka jahanam. Pelaku sumpah dusta harus bertaubat dan meminta ampunan atas dosanya kepada Allah Swt dan berkewajiban membayar kafarat. 

Adapun kafaratnya memilih antara: 1. Memerdekakan budak perempuan mu’minah; 2. Memberi makan 10 orang miskin satu mud (675 gr, 6,75 ons) atau memberikan pakaian 10 orang miskin; 3. Perpuasa tiga hari terus-menerus atau tidak.

إمتاع النجيب: ٤٢٦-٤٢٧

ـ يمينُ اللغوِ: وهي التي تكونُ دونَ قصدٍ أو نسيانًا أو خطأً. لا كفارةَ

ـ يمينُ المعقودِ: وهي التي تكونُ علی فعلِ شيئٍ أو تركِهِ في المستقبلِ، تلزمُ الحالفَ الكفارةُ.

ـ يمينُ الغَموسِ: وهي التي تكونُ علی كذبٍ ، وسُميت غموسًا لأنها تَغمِسُ صاحبها سبعين خريفًا في جهنمَ، يلزمُ صاحبُهُ التوبةَ وتلزمُ الكفارةُ علی الحالفِ

*sumbersari.net

Bagikan

Hukum Perlombaan Berhadiah

Bentuk Perlombaan 

Dalam perlombaan ada berbagai macam perlombaan yang dibolehkan (halal) dan ada yang dilarang (haram):

1. Hukumnya haram apabila seluruh peserta lomba mengeluarkan uang atau pendaftaran (untuk hadiah/ ‘iwadh). Siapa yang menang dari peserta lomba maka akan mendapatkan uang (hadiah). Keharaman tersebut karena dari setiap peserta ada yang bepotensi beruntung dan rugi (unsur judi);

2. Hukumnya halal apabila salah satu peserta lomba mengeluarkan uang (untuk hadiah), siapa yang menang maka akan mendapatkan hadianya, sebaliknya siapa yang kalah maka hadiahnya akan diambil peserta satunya. Kebolehan tersebut karena seluruh peserta lomba tidak diharuskan mengeluarkan uang (pendaftaran);

3. Ada tiga orang atau lebih mengadakan perlombaan, keduanya mengeluarkan uang (untuk hadiah), yang ketiga tidak mengeluarkan uang sepersenpun, siapa yang menang dari tiga orang tersebut akan berhak mendapatkan hadiahnya. Hukum perlombaan ini boleh karena tidak ada unsur judi, sementara orang ketiga yang tidak mengeluarkan uang di atas dinamakan muhallil. 

إمتاع النجيب: ٤٢٤

للمُسابقةِ صُورٌ حلالٌ وصُورٌ حرامٌ وهي

ـ الصورةُ الاولی أن يُخرجَ المالَ كلٌّ من المتسابقين ومن فَازَ أخذَ جميعَ المالِ فحرامٌ لأن كلٍّا منهما علی خطرٍ أن يغنمَ أو يخسرَ, قِمارٌ

ـ الصورةُ الثانيةُ أن يخرجَ احدُ المتسابقينِ المالَ فإن فاز أخذَ مالَهُ وإذا خسِر أخذه الأخرُ فحلالٌ

ـ الصورةُ الثالثةُ أن يتسابقَ ثلاثةٌ إثنان يخرجان المالَ والثالثُ لَا يخرجُ شيئًا ومن فاز في الثلاثةِ أخذَ المالَ فحلالٌ للبعد عن المُقامرةِ، ويسمی الثالثُ الذي لم يخرج المالَ مُحلِّلًا

 

*sumbersari.net

Bagikan