Penerimaan Hadiah Bagi Hakim & Prioritas Persidangan

Hukum Menerima Hadiah

1. Haram bagi seorang hakim menerima hadiah dari ahli daerahnya dan tempat bekerjanya;

2. Haram menerima pemberiah hadiah dari selain tempat bekerjanya apabila di sana ada lawan seteru;

3. Boleh menerima hadiah dari selain tempat bekerjanya dan di sana tidak ada lawan seteru.

-Larangan seorang hakim mengambil uang dari orang yang berselisih agar ia bisa memutus hukum perkara dengan benar dan adil.

Prioritas Persidangan

Prioritas jalannya persidangan mendahulukan orang yang lebih awal datang (mendaftar) dari yang akhir (jika tidak diketahui siapa yang lebih awal maka diadakan undian), mendahulukan orang yang musafir dari pada orang yang mukim, perempuan dari pada lelaki.

إمتاع النجيب: ٤٣٦

حكمُ قبولِ القاضي للهديةِ

ـ يحرمُ قبولُ القاضي من أهلِ دائرتهِ ومحلِّ عملِهِ

ـ ويحرمُ قبولِ الهديةِ من غيرِ محل عملهِ إن كان له خصومةٌ

ـ إن أُهدي إليه من غير محل عملهِ وليس له خصومةٌ جاز قبولُ الهديةِ

ـ لا يجوزُ للقاضي أن يإخذَ مالًا من الخصومِ ليحكمَ بالحقِّ

فرع: يقدم القاضي الاسبقَ في الحضورِ علی المتأخرِ فإن جهِل أيهما اسبق أقرعَ بينهما (أجری القُرعة) إلا المسافرَ فيقدمُ علی الحاضرِ وكذلك النساءُ

*sumbersari.net

Bagikan

Bentuk & Hukum Nadzar

Bentuk Nadzar Ada Dua

1. Nadzar lajjaj, yaitu nadzar yang terjadi waktu berbantah-bantahan atau marah (bukan berniat ibadah). Contoh: jika aku berbicara dengan fulan maka wajib bagiku puasa sebulan, maka jika ia benar-benar berbicara maka harus berpuasa sebulan, jika tidak ia harus membayar kafarat.

Nadzar lajjaj seperti: 1.Mencegah  dirinya untuk  tidak melaksanakan sesuatu; 2. Mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu; 3. Meyakinkan diri untuk melakukan atau menjauhi suatu hal. Contoh: jika perkara ini tidak sesuai dengan apa yang kukatakan, maka wajib bagiku berpuasa sebulan.

2. Nadzar Tabarrur, di mana orang yang bernadzar mengharapkan kebaikan atau berniat ibadah.

-Jika dalam bernadzar menghubungkan dengan sesuatu maka dinamakan mujaazaat atau mukaafaat. Contoh: jika sakitku sembuh maka aku akan berpuasa, bershalat dan bershadaqah, maka apabila sembuh ia harus melaksanakan nadzarnya (tidak bisa bebas dengan membayar kafarat). 

– Jika dalam nadzar tidak dihubungkan dengan sesuatu maka dinamakan tabarrur mutlaq. Contoh: wajib bagiku puasa sebulan, membangun masjid atau membaca Al-Qur’an. Di dalam melaksanakan nadzar ini, kewajiban menunaikannya menunggu sampai waktunya mampu (diperluas) dan tidak bisa bebas dengan membayar kafarat sumpah.

Hukum Nadzar

Adapun hukum dalam nadzar tabarrur harus ditunaikan nadzarnya, sementara dalam nadzar lajjaj ia diberi dua opsi pilihan antara menunaikan nadzar dan membayar kafarat sumpah.

إمتاع النجيب: ٤٣٨-٤٢٩

أنواعُ النذرِ

النذرُ الاولُ: نذرُ اللَّجَّاجِ وهو ما يقعُ حالَ الخُصومةِ، ومثالُه إن كلمتُ فلانًا فللّه عليَّ صيامُ شهرٍ، فإن لم يلتزم الناذرُ بما قالَه فعليه الكفارةُ

ـ يتعلق بنذرِ اللجاج المنعُ من فعلِ شيئٍ، او الحَثُّ علی فعلِه، او التحقيقُ من فعلِ الشيئِ او تركِه كقولِه: إن لم يكن الأمرُ كما قلتُ فللّه عليَّ صومُ شهرٍ

النوعُ الثاني: نذرُ تبرُّرٍ لأن الناذرَ طلب به البرَّ والتقربَ إلی الله تعالی

ـ وهو إما ان يعلقَ علی شيئٍ فيُسمی: المُجازاةَ او المكافأةَ كأن يقولَ إن شَفی اللهُ مريضي فللّه عليّ أن أصومَ أو أصليَ أو أتصدقَ. فإذا حدثَ ما أراد فعليه الوفاءُ بنذرِه ….. وإما ألا يعلقه علی شيئٍ (مطلق) كان يقولَ للهِ تعالی عليّ صومُ شهرٍ، أو بناءُ مسجدٍ أو قراءةُ قرأنٍ

ـ نذرُ التبررِ واجبٌ موسَّعٌ علی الناذرِ ولا يتحللُ منه بكفارةِ يمين

حكمُ النذرِ واجبُ الوفاءِ في نذرِ التبررِ، وفي نذرِ اللجاجِ مخيرٌ بين الوفاءِ ِبما التزمه أو كفارةِ اليمينِ

*sumbersari.net

Bagikan

Macam-macam Sumpah

 

Tiga Macam Sumpah

1. Sumpah sia-sia (laghwi), yaitu sumpah yang tanpa disengaja (tidak berniat bersumpah) atau lupa dan salah. Sumpah semacam ini tidak harus membayar denda kafarat.

Contoh: Demi Allah kau harus mengaji biar tidak menyesal, Demi Allah dia namanya Ahmad, ternyata yang benar namanya Muhamad, sumpah seperti ini sia-sia dan tidak wajib membayar kafarat.

2. Sumpah yang disengaja (ma’qud), yaitu bersumpah untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Orang yang bersumpah dalam hal ini harus membayar kafarat.

Contoh: Demi Allah besok aku akan bershadaqah sebanyak sejuta terhadap sanak keluarga, Demi Allah aku tidak akan memberikanmu uang.

3. Sumpah yang menjerumuskan (ghamus), yaitu sumpah dusta. Sumpah ini dinamakan ghamus karena menjerumuskan pelakunya 70 tahun ke dalam neraka jahanam. Pelaku sumpah dusta harus bertaubat dan meminta ampunan atas dosanya kepada Allah Swt dan berkewajiban membayar kafarat. 

Adapun kafaratnya memilih antara: 1. Memerdekakan budak perempuan mu’minah; 2. Memberi makan 10 orang miskin satu mud (675 gr, 6,75 ons) atau memberikan pakaian 10 orang miskin; 3. Perpuasa tiga hari terus-menerus atau tidak.

إمتاع النجيب: ٤٢٦-٤٢٧

ـ يمينُ اللغوِ: وهي التي تكونُ دونَ قصدٍ أو نسيانًا أو خطأً. لا كفارةَ

ـ يمينُ المعقودِ: وهي التي تكونُ علی فعلِ شيئٍ أو تركِهِ في المستقبلِ، تلزمُ الحالفَ الكفارةُ.

ـ يمينُ الغَموسِ: وهي التي تكونُ علی كذبٍ ، وسُميت غموسًا لأنها تَغمِسُ صاحبها سبعين خريفًا في جهنمَ، يلزمُ صاحبُهُ التوبةَ وتلزمُ الكفارةُ علی الحالفِ

*sumbersari.net

Bagikan

Hukum Perlombaan Berhadiah

Bentuk Perlombaan 

Dalam perlombaan ada berbagai macam perlombaan yang dibolehkan (halal) dan ada yang dilarang (haram):

1. Hukumnya haram apabila seluruh peserta lomba mengeluarkan uang atau pendaftaran (untuk hadiah/ ‘iwadh). Siapa yang menang dari peserta lomba maka akan mendapatkan uang (hadiah). Keharaman tersebut karena dari setiap peserta ada yang bepotensi beruntung dan rugi (unsur judi);

2. Hukumnya halal apabila salah satu peserta lomba mengeluarkan uang (untuk hadiah), siapa yang menang maka akan mendapatkan hadianya, sebaliknya siapa yang kalah maka hadiahnya akan diambil peserta satunya. Kebolehan tersebut karena seluruh peserta lomba tidak diharuskan mengeluarkan uang (pendaftaran);

3. Ada tiga orang atau lebih mengadakan perlombaan, keduanya mengeluarkan uang (untuk hadiah), yang ketiga tidak mengeluarkan uang sepersenpun, siapa yang menang dari tiga orang tersebut akan berhak mendapatkan hadiahnya. Hukum perlombaan ini boleh karena tidak ada unsur judi, sementara orang ketiga yang tidak mengeluarkan uang di atas dinamakan muhallil. 

إمتاع النجيب: ٤٢٤

للمُسابقةِ صُورٌ حلالٌ وصُورٌ حرامٌ وهي

ـ الصورةُ الاولی أن يُخرجَ المالَ كلٌّ من المتسابقين ومن فَازَ أخذَ جميعَ المالِ فحرامٌ لأن كلٍّا منهما علی خطرٍ أن يغنمَ أو يخسرَ, قِمارٌ

ـ الصورةُ الثانيةُ أن يخرجَ احدُ المتسابقينِ المالَ فإن فاز أخذَ مالَهُ وإذا خسِر أخذه الأخرُ فحلالٌ

ـ الصورةُ الثالثةُ أن يتسابقَ ثلاثةٌ إثنان يخرجان المالَ والثالثُ لَا يخرجُ شيئًا ومن فاز في الثلاثةِ أخذَ المالَ فحلالٌ للبعد عن المُقامرةِ، ويسمی الثالثُ الذي لم يخرج المالَ مُحلِّلًا

 

*sumbersari.net

Bagikan

Zikir-zikir Sehabis Sholat (4-habis)

Bacaan Sesuai Tuntunan

Memabaca tahlil ( Laa ilaaha Illallah) sebagaimana bacaan di bawah, di mana Rasulullah Saw senantiasa membacanya.

صحيح مسلم، الجزء الاول، ص ٢٣٦ حديث ١٣٧١

كَانَ إبنُ الزُّبَيرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍة حِينَ يُسَلِّمُ: لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمدُ وَهُوَ عَلَی كُلِّ شَيئٍ قَدِيرٌ، لَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ

لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعبُدُ إلَّا إيَّاهُ لَهُ النِّعمَةُ وَلَهُ الفَضلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ

لَاإلَهَ إلَّا اللهُ مُخلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوكَرِهَ الكَافِرُونَ، وقال كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) setiap selesai sholat membaca, Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lahuu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qadiirun. Laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu lahunni’matu walahulfadhlu walahutsana’ul hasanu. Laa ilaaha illallaahu mukhlisiina lahuddiinu walau karihal kaafiruuna.”

Abdullah bin Zubair berkata bahwa Rasulullah Saw senantiasa bertahlil sehabis sholat dengan bacaan tersebut.

(*)

Bagikan

Zikir-zikir Sehabis Sholat (3)

Bacaan Sesuai Tuntunan

Membaca bacaan Laa ilaaha illahu wahdah dilanjutkan bacaan allahumma la maani’a sebagaimana di bawah:

صحيح مسلم، الجزء الاول، ص ٢٣٦ حديث ١٣٦٦

عَن ورَّادٍ مَولَی المُغيرَةِ بنِ شُعبَةَ قَالَ كَتَبَ المُغيرةُ بنِ شُعبةَ إلَی مُعَاوِيَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّی اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا فَرَغَ مِن الصَّلَاةِ وَسَلَّمَ قَالَ لَاإلَهَ إلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَريكَ لَهُ لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمدُ وَهُوَ عَلَی كُلِّ شَيئٍ قَديرٌ اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعطَيتَ وَلَا مُعطِيَ لِمَا مَنَعتَ وَلَا يَنفَعُ ذَا الجَدِّ مِنكَ الجَدُّ

Dari Warrad, budak dari (Mughirah bin Syu’bah) berkata, (Mughirah bin Syu’bah) berkirim surat kepada Muawiyah, bahwa apabila Rasulullah selesai sholat dan bersalam, beliau mengucapkan, Laa ilaaha illalaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syaiin qadiir, allahumma laa maani’a limaa a’thaita, wa laa mu’tiya limaa mana’ta , walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.”

(Bersambung)

 

Bagikan

Zikir-zikir Sehabis Sholat (2)

Bacaan Sesuai Tuntunan

Beristighfar (meminta ampun) tiga kali, kemudian dilanjutkan bacaan sebagaimana di bawah setiap selesai melaksanakan sholat.

صحيح مسلم، الجزء الاول، ص٢٣٥، حديث ١٣٦٢

عن ثوبان قال كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلّی اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِن صَلَاتِهِ اسْتَغفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أنتَ السَّلَامُ وَمِنكَ السَّلَامُ تَبَارَكتَ ذَا الجَلَالِ وَالإكرَامِ، قَالَ الوَلِيدُ فَقُلتُ لِلأوزَاعِيِّ كَيفَ الإستِغفَارُ قَالَ تَقُولُ أَستَغفِرُ اللهَ أَستَغفِرُ اللهَ

Dari Tsauban berkata, “Apabila Rasulullah selesai sholat, beliau beristighfar (meminta ampun) 3x lalu membaca Allahumma antas salam, wa minkas salam, tabarakta dzal jalali wal ikram.” Berkata Walid, “kukatakan pada Auza’i, “Bagaimana bila hendak meminta ampun?” Ia menjawab, “Engkau katakan saja, Astaghfirullah, Astaghfirullah.”

(Bersambung)

Bagikan

Zikir-zikir Sehabis Sholat

Wirid-wirid Sesuai Tuntunan

Membaca Tasbih (Subhanallah) 33x, hamdalah (Alhamdulillah) 33x, takbir (Allahu Akbar) 33x, dan bacaan pelengkap (sebagaimana di bawah), maka dapat menghapus dosa-dosa sebanyak buih lautan.

صحيح مسلم، الجزء الاول، حديث ١٣٨٠

عن أبي هريرة عن رسول الله صلی الله عليه وسلم: مَن سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتِلكَ تِسعَةٌ وَتِسعُونَ وَقَالَ تَمَامَ المِائَةِ لَا إِلٰهَ إِلّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمدُ وَهُوَ عَلَی كُلِّ شَيئٍ قَدِيرٌ، غُفِرَت خَطَايَاهُ وَإِن كَانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa setiap habis shalat membaca tasbih 33x, membaca tahmid 33x, dan membaca takbir 33x maka semuanya berjumlah 99, dan membaca bacaan untuk menyempurnakan 100, Lailaha illahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir, maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.”

(Bersambung)

Bagikan

Kedisiplinan Rasulullah Dalam Berpuasa Sunnah

Puasa Nabi Menurut Kedua Istrinya

عن حفصة قالت: أَربَعٌ لَم يَكُن يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صلّی اللهُ عليه وسلّم صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالعَشرَ، وَثَلَاثَةَ أَيّامٍ مِن كُلِّ شَهرٍ، وَرَكعتَينِ قَبلَ الغَدَاةِ

Dari Hafshah ra (putri Umar Al Khattab) berkata, “ada 4 perkara yang tidak ditinggalkan Nabi: puasa Asyura’ (10 Muharram), sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah), tiga hari di setiap bulan (Ayyamul bidh: tgl 13, 14, 15), dua rakaat sebelum subuh.”

سُنَن النَّسَائِي: الجزء الاول، حديث ٢٤٢٨

عن عائشة قالت: كَانَ النَّبِيُّ صلّی الله عليه وسلّم يَصُومُ الإِثنَينِ وَالخَمِيسَ

Dari Aisyah ra (putri Abu Bakar) berkata, “Nabi Saw biasa puasa Senin dan kamis.”

سُنَن النَّسَائِي: الجزء الاول، حديث ٢٣٧٦

Di sini bisa disimpulkan, kedisiplinan  puasa sunnah Nabi saw:

1. Bersifat tahunan (Asyuara’, 10 hari pertama Dzul Hijjah);

2. Bersifat Bulanan (3 hari setiap bulan);

3. Bersifat mingguan (Senin-Kamis).

Semoga kita semua dapat meneladaninya.

(*)

Bagikan

Benarkah Nabi Tidak Pernah Puasa Tasu’a’?

Puasa Tasu’a’ (puasa pada hari ke-9 Muharram) sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau tidak sempat melaksanakannya karena lebih dulu wafat, tetapi beliau memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya. Perintah tersebut termasuk hadist dalam kategori aqwal (ucapan), sama dengan af’al (perbuatan), taqrir (ketetapan/ persetujuan) dari Nabi. Dalam hal puasa Tasu’a’, beliau juga berkeinginan sebelumnya untuk melaksanakannya di tahun berikutnya seperti dalam hadist:

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: لَمَّا صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَومَ عَاشُورَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إنَّهُ يَومٌ تُعَظِّمُهُ اليَهُودُ وَالنَّصَارَی، فَقَالَ: إِذَا كَانَ العَامُ المُقبِلُ إن شَاءَ اللهُ صُمنَا اليَومَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَم يَأتِ العَامُ المُقبِلُ، حَتَّی تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، رواه مسلم، وابو داود

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ketika Rasulullah berpuasa Asyura’ dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata, “ya Rasulullah, sesunggunya hari ini merupakan hari yang diagung-agungkan orang Yahudi dan Nasrani.” Rasullah bersabda, “apabila tahun yang akan datang, insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal sembilan (tasu’a’).” Ibnu Abbas berkata, maka tidak sampai tahun berikutnya, Rasulluh wafat. (HR Muslim, Abu Daud).

Puasa tanggal 9 merupakan puasa pembeda dengan orang Yahudi dan Nasrani, pengikut dari puasa Asyura’ (tanggal 10), di mana dianjurkan untuk berpuasa sehari sebelum dan sesudah Asyura’, di mana para ulama membagi pusa Asyura’ pada 3 bagian:

Pertama, puasa tanggal 9, 10, 11;

Dua, puasa tanggal 9, 10;

Ketiga, puasa tanggal 10 saja.

 

Ibarat kitab:

فقه السنة لسيد سابق: ٣٠٢

Bagikan